• Stories

    Edelweiss dalam Dekapan Pangrango

    Rumah itu tidaklah besar, ukuran perumahan sederhana di kawasan suburban ibukota. Pemilik rumahnya adalah sepasang pengantin baru yang sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pernikahan itu sendiri. Belum banyak bunga – bungaan yang ditanam oleh keduanya, catnya pun masih standart berwarna putih. Mereka belum sempat mendebatkan tentang warna cat rumah atau bentuk sofa karena pagi ini mereka baru selesai melakukan pindahan. “Mari membuat rumah yang nyaman dan bahagia, Sayang,” bisik Si perempuan setelah selesai membereskan beberapa buku di rak salah satu ruang yang kini difungsikan sebagai ruang baca dari kesepakatan bersama. “Hem,” balas Sang suami berdehem mengiyakan sambil tersenyum. “Sayang, aku mau bulan madu,” ujar perempuan tiba – tiba yang…

  • Stories

    NSP

    “Berapa banyak waktu kita?” tanyamu dengan muka penuh curiga. “Sebanyak yang kamu bisa,” jawabku ringan. Hujan masih menyisakan gerimis yang tipis. Bangku kayu di sekitar peron ini tidak begitu penuh, hanya beberapa orang yang nampak sama duduknya dengan kami. Menunggu. Menunggu kereta yang datang. Kamu mendengus pelan. Di usiamu yang ke-22 gurat dewasa membuat parasmu kian sempurna. Ah iya, dari sembilan tahun yang lalu bukankah kamu memang selalu cantik? Sembilan – bolehkah aku eja lagi s-e-m-b-i-l-a-n. Astaga, selama itukah Tuhan mengijinkan kita bersahabat? “Kamu curang, kamu tidak datang,” ucapmu dengan nada marah, sedih dan kecewa, namun memaklumi. “Tidak ada yang bisa bernegosiasi dengan waktu, kamu tidak dan aku juga,” kataku…

  • Stories

    Grey Sky Collapse

    08.00 a.m Sewajarnya aku sudah ikut berebut ruas aspal ibu kota yang dijejali berbagai kendaraan setiap harinya. Semestinya aku sudah memakai outfit kantor yang dipadu dengan jas dan diawali sarapan roti yang tak pernah kusantap di meja makan. Alasannya sederhana, supaya nggak kena macet. Tapi, semua itu tidak bisa aku lakukan sejak berita itu memenuhi berbagai saluran. Naasnya aku tidak bisa melakukan apa – apa, kecuali seperti sekarang mematung di hadapan layar televisi. Kamu masih belum ditemukan. 11.00 a.m “Tidur Za,” pinta Mama dengan nada khawatir. Sudah hampir empat hari memang aku tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali aku memejamkan mata yang ada di dalam benakku adalah kamu sedang di…

  • Stories

    Lost – You – Love

    “Aku menyukai topi.” Itu yang dikatakan Danu sebelum membunuh Sheri, pacarnya. Kalimat itu menjadi penutup bacaan koran pagiku sebelum pergi ke kantor hari ini. Aku menghela nafas tidak habis pikir dengan pemberitaan tentang pembunuhan yang berembel – embel cinta, cemburu, selingkuh atau pembendaharaan istilah perasaan hubungan dua manusia lainnya. Segera kunyalakan radio bermaksud mencari hiburan dan enggan memikirkan berita yang semakin memusingkan kepalaku. “Listeners, kenapa ya orang yang mengaku ‘mencintai’ harus berbuat seperti itu hanya karena takut kehilangan orang yang dicintainya?” celoteh si Penyiar perempuan dengan suara alto yang khas. Aku bermaksud mengganti saluran, namun telepon yang masuk ke radio itu menghentikan gerakan jariku. “Hakikat cinta adalah melepaskan, semakin hebat…

  • Stories

    Menemukan Hau Meni

    Wangi menyan dan dupa bercampur dengan wangi kembang kambodja. Suara kokokan ayam dan gamelan khas Bali mengalun pelan. Lamat – lamat terdengar rapalan khas warga Bali. Mataku yang berat sedikit memincing karena silaunya matahari pagi. Kepalaku pusing. “Aku ada dimana?” tanyaku dalam hati ketika mendapati diri di dalam sebuah kamar bertembok kayu, bukan kamar hotelku. Seharusnya ketika aku bangun terhampar samudera Hindia dengan deburan ombaknya, bukan jendela kayu tertutup ukuran 2 x 2 seperti sekarang. “Sudah bangun?” tanya seseorang perempuan tiba – tiba dari arah pintu. “Eh? Anda siapa?” tanyaku kaget. “Semalam anda secara tidak sopan masuk ke mobil saya. Kemudian tidak sadarkan diri, untung saya baik hati sehingga mau…

  • Stories

    Marry Your Daughter

    Sir, I’m a bit nervous ‘Bout being here today “Ayah, doakan anakmu hari ini,” batinku dalam hati mencoba merasakan keberadanya di belakangku. Meja yang tidak begitu tinggi itu entah seberapa magis hingga bisa berdiri memisahkan aku dengan laki – laki yang harus kujabat erat tangannya demi wanita di sebelahku saat ini. Dan, entah mengapa aku merasa bahwa suhu ruangan masjid ini mendadak menjadi lebih dingin daripada biasanya. Mencoba berkali – kali aku merapal doa serta kalimat itu yang didalamnya ada nama seorang gadis dan seorang laki – laki dihadapanku. Still not real sure what I’m going to say “Saya terima………………………………………………” So bare with me please Bulan pertama sebelas bulan lalu…

  • Stories

    Me & My Broken Heart

    All I need is a little love in my life Orang pada umumnya senang melepas segala hal sesuatu pada laut, tapi mereka berbeda. Katanya kasihan laut, terkadang ia yang tenang dan sering bergemuruh itu jadi luapan seperti tempat sampah. Mereka bilang sejujurnya laut terlalu indah untuk melepas duka, lebih baik ia jadi saksi bahagia begitu katanya bersamaan. “Aku suka tempat ini,” kata salah satu dari mereka yang hari ini mengenakan setelan warna hijau tua dengan jepit rambut warna senada. “Aku juga suka, terimakasih sudah membawaku kesini. Kau cantik memakai hijau, walau aku tahu pasti kau sedang ingin berkamuflase bukan?” timpal seorang lagi yang memakai warna setelan merah darah. “Hahaha iya,…

  • Stories

    Here To Stay

    Kabin pesawat beberapa menit yang lalu masihlah menjadi catwalk pramugari bercorak batik dengan rok panjang menjutai. Gelas sintetis yang berisi sari apel favoritku juga baru saja tandas ketika tiba – tiba pesawat ini bergoyang hebat. Langit yang sepelemaran pandangku tadi berwarna biru kini bergulung kelabu, berkecipak air hujan turun seperti senapan yang ditebakkan dari segala penjuru. Lampu penggunaan sabuk pengaman kemudian menyala dan aku mendengus pelan. “Liburan dambaanku kacau,” ujarku dalam hati.   Pesawat ini akhirnya kembali ke bandara semula, entah apa yang terjadi. Ini janggal ditengah musim kemarau yang kerontang ada badai yang mengamuk dasyat. Perempuan di sebelahku yang sejak tadi mengenakan headset pun seperti kecewa. Air mukanya yang sendu…

  • Stories

    Leaving – On A Jet Plane

    Aku sendiri tidak tahu tujuan penerbangan ini. Benar – benar hal yang aneh bukan? Walaupun aku sudah memesan tiket jauh sebelumnya untuk mempersiapkan kepergian ini, tapi tiket itu bertuliskan tujuan ; RAHASIA. Jangankan tanya nama bandara, ke tempat mana aku pun tidak tahu. All my bags are packed, I’m ready to go Rumah itu ada di ujung persimpangan. Mau aku gambarkan interiornya adalah tumpukan buku dan papan tulis berwarna hitam dengan berbagai coretan dari kapur. Dibeberapa sudutnya ada cangkir – cangkir coklat, kopi kadang teh atau gelas – gelas untuk jus jeruk. Dulu biasanya kita berlama – lama duduk, kamu membaca, aku mencatatat, kadang kamu mencoret dan memenuhi dinding –…

  • Stories

    Kenangan, Tak Datang di Pemakaman

    Pusara itu dikelilingi pagar hitam berbahan baju, udara menjadi medium perambatan suara sesenggukan diantara sekaan air mata. Perlahan dengan gerakan tidak beraturan serpihan kelopak mawar dan melati yang bertaburan sebagai pewarna yang tersisa untuk duka. Ada buliran air mata yang diseka dengan perca berbentuk segiempat kadang berenda kadang juga hanya dijahit ditepinya. Begitu bukan upacara bernama pemakaman? Pusara ini sudah dipersiapkan. Dia yang meninggal sudah menyiapkannya jauh – jauh sebelumnya. Seyakin dia memang pernah hidup seyakin itu pula pada akhirnya dia bisa mati. Aku tak yakin dia berduka oleh kematiannya, aku justru ragu sebenarnya dia memang memilih kematian dibandingkan meneruskan segalanya. Tapi, mungkin beginilah yang bisa dipilih sebagai cerita. Dia…

  • Stories

    Now

    Lorong yang didominasi warna putih ini jadi tercemar oleh kehadiran kita berdua. Aku yang hari ini menggunakan setelan peach dan tosca serta kamu dengan suiter warna navy. Kita berjalan bersisihan untuk mencapai ruangan di ujung lorong. Bau khas rumah sakit yang terlalu asing untukku dan sedang menjadi biasa untukmu. Sudah hampir tiga bulan terakhir kamu sakit dan baru sekarang aku bisa menemanimu. Bukan karena aku tak mau, tapi jarak sempat jadi pilihan dimana kita akhirnya tidak saling bertemu. “Silahkan menunggu, dokter Yosal belum datang,” ujar seseorang di ujung lorong sebelumnya yang pastinya setiap hari memakai setelah warna putih seperti dinding rumah sakit ini. “Kenapa nggak datang tepat waktu aja, daripada…