Stories

Edelweiss dalam Dekapan Pangrango

Rumah itu tidaklah besar, ukuran perumahan sederhana di kawasan suburban ibukota. Pemilik rumahnya adalah sepasang pengantin baru yang sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pernikahan itu sendiri. Belum banyak bunga – bungaan yang ditanam oleh keduanya, catnya pun masih standart berwarna putih. Mereka belum sempat mendebatkan tentang warna cat rumah atau bentuk sofa karena pagi ini mereka baru selesai melakukan pindahan.

“Mari membuat rumah yang nyaman dan bahagia, Sayang,” bisik Si perempuan setelah selesai membereskan beberapa buku di rak salah satu ruang yang kini difungsikan sebagai ruang baca dari kesepakatan bersama.
“Hem,” balas Sang suami berdehem mengiyakan sambil tersenyum.
“Sayang, aku mau bulan madu,” ujar perempuan tiba – tiba yang kini duduk menyebelahi suaminya. Merajuk.
“Kemana?” tanya laki – laki disebelahnya sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Aku mau naik gunung,” balas perempuan itu singkat.
“Naik gunung?” kini suaminya menatap wajah Sang Istri dengan raut muka penuh tanya. Seperti berkata “Serius?”. Awalnya dia berpikir perempuan di sebelahnya akan menyebutkan Korea, Jepang, atau Bali.
“Ya, aku mau ke Mandalawangi Pang-rang-o!” Sang Istri mengeja pelan nama gunung yang ingin dia daki.
“Kenapa?” kini Sang Suami makin tak habis pikir. Sudah kesekian kali dia dikejutkan oleh permintaan istrinya. Perempuan yang dia kenal dari salah seorang sepupunya setahun yang lalu.
“Karena kamu,” Sang Istri mengerling manja namun penuh keyakinan akan permintaannya.
“Fala, kenapa kamu selalu penuh kejutan?” tanya Gamma dalam hati kini dengan senyuman dan perasaan gemas pada istrinya.
“Hmmm, nggak usah deh Fal. Emang kamu bisa naik gunung? Paling nggak kuat. Jadi nggak usah aja ya, mending kita pergi kemana gitu, universal studio, dufan atau ke Blok M borong buku. Kalau kamu mau edelweiss, aku aja yang ke Pangrango kamu duduk di rumah pulangnya aku bawain yang banyak, ” Gamma menggeleng tidak yakin jika mereka pergi mendaki berdua. Ya, dia memang pendaki gunung tapi, pergi berdua dengan Fala dia masih meragukan itu.
“Kenapa? Ada kamu kan yang udah jago naik gunung. So, kenapa kamu nggak mau naik gunung sama istri kamu sendiri?” rajuk Fala dengan nada protes.
“Aku nggak mau kamu kenapa – kenapa,” kata Gamma sambil menangkupkan tangannya ke pipi istrinya yang dia yakin tidak pernah naik gunung sekalipun.
“Kalau kamu yakin sama diri kamu, kamu nggak akan mempermasalahkan dengan siapa kamu mendaki. Kalau kamu yakin untuk menikahi aku, kenapa kamu harus nggak yakin hanya naik gunung sama aku?” kini resmi dimulailah adu mulut keduanya.
“Duh, aku kalah. Kenapa aku harus nikahi perempuan yang jago bikin kata – kata aneh – aneh sih?” canda Gamma melirik ke istrinya.
“Jadi kita bisa pergi?” wajah Fala antusias.
“Hem..” Gamma hanya berdehem dan mengambil salah satu buku di rak yang tadi Fala rapikan. Gamma belum yakin sepenuhnya untuk memenuhi permintaan Fala, tapi dia tahu track atau jalur pendakian Pangrango terbilang mudah, terutama jalur Cibodas dan Gunung Putri walaupun dia tidak yakin terbilang mudah juga bagi Fala.
“Makasih,” Fala mendaratkan ciuman lembut ke pipi suaminya. Wajah Gamma tersipu malu kemerahan.
“Karena aku cinta kamu, Fala,” gumam Gamma dalam hati sambil berharap kuota pendakian penuh sehingga permintaan istrinya itu bisa tertunda atau bahkan dibatalkan.

Sebagai bagian dari program pemulihan kondisi ekosistem akibat banyaknya pengunjung yang memasuki kawasan taman nasional sejak awal tahun, per 1 Januari 2015, kegiatan pendakian untuk sementara ditutup. Ini merupakan jadwal rutin tahunan yang di tetapkan oleh pihak pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Diharapkan dari penutupan sementara ini terjadi perkembangbiakan hewan dan tumbuhan, tanpa adanya gangguan dari aktivitas pengunjung. Namun, sejak April ternyata jalur sudah dibuka kembali. Setelah berdebat beberapa kali dan Fala merajuk berkali – kali akhirnya mereka berdua mendapatkan kuota untuk mendaki tepat di minggu kedua Agustus.

Semua bawaan telah di pak, Gamma sudah sejak SMP hobi mendaki gunung – Pangrango merupakan salah satu gunung favoritnya. Gamma hafal betul apa yang harus dia bawa dan tidak perlu dibawa. Sejak tiga hari sebelum berangkat Fala sudah menanyakan ini itu termasuk barang – barang yang ingin dia bawa. Percayalah saat – saat itu Gamma seperti seorang wasit yang berkata ‘ya’ dan ‘tidak’. Bukan Fala jika kadang – kadang dia keras kepala dan menanyakan ‘kenapa nggak boleh dibawa?’. Namun, Gamma dengan sabar menjelaskan dan Fala dengan baik mematuhi perkataan suaminya. Walaupun, kadang – kadang Gamma juga menerima keberatan istrinya dan menimbang dengan ujung ‘boleh’.

Hari keberangkatan pun tiba. Ada 6 pintu wisata menuju kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yaitu: Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung. Pintu masuk Cibodas, Gunung Putri dan Selabintana merupakan akses utama menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango. Gamma memutuskan mereka akan memakai jalur Cibodas, jalur resmi dengan track yang aman. Berjarak 100 km dari Jakarta ditempuh melalui Jalan Tol Jagorawi dan keluar di Tol Ciawi. Awalnya Fala mengatakan ingin naik transportasi umum saja, tapi Gamma menolak mentah – mentah.
“Nggak Fala, kamu bakal lebih capek. Kita naik mobil aja,” nada tegas Gamma menjadi ultimatum yang tidak boleh disela lagi.

Sebelum pukul tujuh pagi mobil mereka sudah sampai di parkir Cibodas. Gamma sudah membagi ransel mereka berdua dan memastikan ransel Fala tidak begitu berat.

Fala menghela nafas.

“Ini bukan perjalanan mudah, semoga beruntung Fala,” batin Fala dalam hati. Ia ingat dulu sewaktu melakukan pertukaran pelajar di Jepang selama beberapa bulan dan house fam-nya hobi mendaki gunung, Fala sama sekali tidak berhasil mencapai bukit ketika ikut hiking. Ia sudah kelelahan di pos pertama. Bahkan teman satu perjalananya sering meledek, “masak kalah sama nenek kakek Jepang”. Tapi, bagi Fala ini berbeda – ia menikahi Gamma artinya ia harus menikahi seluruh hidupnya. Bukankah jika ingin mengetahui seseorang kita harus mengetahui apa yang dia suka? Dan, ada satu pertanyaan yang ingin Fala jawab bersama Gamma.

“Siap?” tanya Gamma memastikan semua pada tempatnya. Ia pun menggenggam tangan Fala dan memulai pendakian.

Fala mengangguk. Takzim. Gamma memang pendiam dan kaku, tapi Fala tahu Gamma adalah lelaki berhati lembut dan penyayang.

Mereka akan mendaki sampai ke Pos Panyacangan terlebih dahulu baru setelahnya ialah Kandang Badak untuk ke Mandalawangi. Gamma pun sudah yakin ini akan jadi perjalanannya paling lambat.
“Aku capek,” kata Fala baru beberapa kilo mereka mendaki. Walaupun awalnya Fala antusias dengan sesekali mengambil foto berdua, mengambil foto tumbuhan atau serangga di sepanjang jalan tapi stamina Fala tetap Fala. Gamma mengerti hal itu dan mereka istirahat duduk di pinggiran track sembari melihat pendaki yang lain.
“Selamat pagi,” sapa beberapa bule yang mendaki hari itu ketika Fala melemparkan senyum ke arah rombongan yang duduk tidak jauh dari mereka.
“Selamat pagi, where are you come from?” tanya Fala membuka pembicaraan.
“Norwegian,” jawab salah satu bule tersebut. Dari pembicaraan singkat itu Fala gembira dan makin bangga dengan keindahan Indonesia. Bule – bule itu mengakui keindahan Pangrango bahkan ini sudah kedua kalinya mereka mendaki.
“Udah dari dulu kali kalau Indonesia itu alamnya keren,” Gamma membahasnya dengan Fala seperti sekaligus membanggakan hobinya mendaki gunung.
“Jadi kamu nggak salah menerima aku jadi suami.” Fala tergelak dan mencubit pelan suaminya. Gemas.

Walaupun berjalan lambat pendakian itu tetap diteruskan. Sesekali Fala dan Gamma saling bersisihan, kadang – kadang Fala harus mengikuti di belakang dan kadang – kadang Gamma meminta Fala untuk berjalan terlebih dahulu.
“Ayo Fala, tengah hari nanti kita harus sampai pos penyancangan agar tidak kemalaman membuat camp di puncak biar gak kehabisan tempat,” jelas Gamma sambil memperhatikan track di depannya.
“Auuuwwww!!!” suara mengaduh terdengar dari belakang punggungnya. Gamma kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Fala sedang memegangi sepatunya sambil meringis karena darah mengucur.
Tanpa ba-bi-bu Gamma melepaskan sepatu Fala dan benar apa yang dia perkirakan. Pacet.
“Tahan ya, dia nggak bisa dilepasin kalau belum kenyang,” jelas Gamma melihat raut muka istrinya yang pias. Masih ada satu pacet yang sedang bersarang di kaki Fala. Gamma juga heran ternyata di jalur resmi masih terdapat pacet, biasanya pacet hanya ada di di track non resmi. Tapi, siapalah dia yang bisa mengatur dimana pacet hidup?
Fala meringis menahan sakit sambil merutuki dirinya sendiri.
“Sabar, ini cuma pacet nggak apa – apa,” senyum lembut Gamma meruntuhkan runtukan dalam hati Fala.
“Jangan nangis,” ujar Gamma memperhatikan lekat wajah istrinya dengan nada meledek dan memplester luka dari pacet pertama agar darahnya tidak mengucur.
“Ih, siapa yang nangis.” Fala mengelak.
“Makanya jangan sok – sokan minta naik gunung, masak makanan yang enak aja. Aku bisa naik gunung sama temen – temenku. Nggak usah memaksakan diri kalau memang nggak bisa,” Gamma berkata – kata sambil mengelus pelan kepala istrinya.
Fala terdiam. Sebal.

Hampir setengah jam mereka menunggu pacet terlepas dari kaki Fala. Setelahnya mereka mendaki kembali dan hampir tengah hari baru sampai di Penyancangan. Sangat lambat menurut Gamma, biasanya dia sudah ada di Kandang Badak sekarang.
“Okey selamat Nyonya Gamma Alfath, anda berhasil sampai di pos Penyancangan yang baru sepertiga perjalanan kita,” ungkap Gamma meletakkan ranselnya dan membantu istrinya duduk.
“Terimakasih suaminya Alfala Salsabila. HAHAHA baru sepetiga? Hebat!” Fala hanya terbahak menertawakan dirinya sendiri yang kini mulai meragukan dirinya benar – benar bisa mencapai puncak Pangrango atau tidak.

Akhirnya mereka berdua sampai di Kandang Badak dengan waktu tempuh 9 jam lebih lambat 3 jam normalnya hanya 6 jam. Lalu perjalanan Kandang Badak hingga Puncak Pangrango (3.1019 mdpl) memakan waktu 4 jam. Gamma dan Fala menghadapi medan banyak akar dan pohon menjalar. Rasanya seperti melakukan parkour memanjat sana sini, berjongkok melangkahi halang rintang pohon – pohon besar.

Lembah Kasih Mandalawangi berada tersembunyi 150 meter dari Puncak Pangrango. Rasa sesak suram, sepi dan dingin menyapa kala akhirnya mereka berdua sampai di Puncak. Gamma seperti menumpahkan rindu namun, belum lama dia menghirup nafas melepaskan kerinduan terdengar suara bedebum dari belakang.
“FALA!” Gamma terkejut mendapati istrinya terjatuh di permukaan tanah. Dia segera menghampirinya dan memapah ke tepi.
“Astaga Fala, AMS,” suara khawatir Gamma mengalun lemah. AMS atau (Acute Mountain Sickness) adalah bentuk awal dari mabuk gunung. Nafas Fala tersengal dan mual – mual.
“Kamu duduk dulu, ambil nafas dengan baik. Minum ini,” Gamma mendekap Fala.
Fala mematuhi suaminya. Nafasnya berangsul normal.

Pukul 04.00 waktu Pangrango, keduanya turun ke bawah. Menelusuri jalur setapak rimbun. Dengan mata senter yang menembus kabut. 20 menit sesudahnya mereka sampai di Lembah Mandalawangi. Karena waktu subuh telah tiba Gamma mengajak istrinya ke ujung Lembah untuk mengambil wudhu dan shalat di gunung. Syahdu.
“Inilah, lembah bunga cantik yang cenderung terkesan seperti wanita dingin,” ujar Gamma ketika keduanya berjalan – jalan menembus kabut menunggu matahari terbit.
“Hahaha jadi ini wanita dinginmu?” Fala yang tengah menciumi wangi tipis bunga edelweis melirik ke arah suaminya.
Gamma terbahak lupa kini ia tidak sendiri, biasanya hanya bersama kawan sesama pendaki.
“Yeah begitulah, dulu aku pikir aku akan bertemu dengan perempuan sedingin ini. Tapi,” Gamma tidak melanjutkan kata – katanya. Ia meraih tangan Fala dan mendekap tubuhnya. Hangat.
Karena gemas lagi Fala mencium lembut suaminya. Dan, selalu pipi Gamma jadi bersemu kemerahan.
“Naik ke Pangrango bulan Agustus lembahnya bau wangi. Wanginya sangat mirip melati tapi sangat soft. Kayak gini,” Gamma menghirup nafas dalam – dalam.

“Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi. Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada. Hutanmu adalah misteri segala. Cintaku dan cintamu adalah kebisuan semesta,” Fala mengucapkan sebait puisi Mandalawangi Soe Hok Gie.
“Hidup adalah soal keberanian. Menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti. Tanpa kita menawar. Terimalah dan hadapilah,” sahut Gamma kemudian.
“Eh?” Fala terkejut karena Gamma melanjutkan puisi tersebut.
“Apa? Kaget? Dih, itu kan puisi wajib pendaki gunung,” sahut Gamma pongah. Ternyata keduanya memang sudah mengenal Mandalawangi, Gamma bertemu Mandalawangi dalam pendakian – Fala bertemu dengan Mandalawangi dalam sastra yang ia baca. Dan, kini keduanya bertemu di Mandalawangi.

“Makasih udah sabar buat ngajakin aku kesini. Aku meyakini dan kamu pun meyakini. Karena, bukankah hidup adalah pendakian gunung? Kadang turun kadang naik, tapi memiliki teman hidup seperti kamu lebih dari cukup untuk melaluinya. Bisa menjadi pemimpin, teman, dan pelindung, seperti saat kamu berjalan mendaki duluan, bersisihan dan mendahulukan aku,” Suara lembut Fala memecah hening yang sempat tercipta beberapa menit lalu. Inilah pertanyaan penting yang Fala temukan jawabannya.
Gamma terperangah.
“Ya ya ya, kamu nggak suka kalau aku bermetafora. Tapi, sungguh kali ini aku tidak bisa untuk tidak bermetafora Gamma,” tukas Fala.
Gamma mendekap Fala lebih erat ketika matahari samar terbit dari timur. Seperti Pangrango yang mendekap Edelweis dalam kungkungan lembahnya. Melindungi, menyimpan indah dengan cinta yang abadi. Seperti mitos tentang edelweiss, bunga abadi.

Gamma menghela nafas saat Fala kerepotan turun gunung. Namun, satu kilo ketika mereka hampir mencapai gerbang Cibodas Gamma terpental jatuh dan kakinya terkilir. Pulangnya Fala yang mengemudi.

“Terima kasih Tuhan, Engkau jodohkan aku dengan perempuan ini,” gumam Gamma saat mendapati Fala mengomel karena Gamma tidak hati – hati tadi.

edelweis-2

Rumah, 150410 – 07.36 P.M

Inspirasi : beberapa tulisan tentang Pangrango, dan jawaban dari situs pertanyaan.
Background dipinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *