Harmoni Ramadhan #GregetRamadhan

Senja Ramadhan pertama, Pati- 6 Juni 2016

Pasar Penanda

(Ramadahan, Pati/ Jawa Tengah)

“Nanti kita bisa membeli mainan dari tanah liat untuk main pasar-pasaran. Ada juga jajanan tradisional, diujung sana ada permainan bianglala untuk anak-anak, sekalian gula-gula aneka rasa.”

Menjelang ramadhan ketika memasuki bulan Sa’ban di daerahku terdapat pasar malam yang sering disebut dengan Sa’banan. Salah satu yang khas dari sa’banan menjadi oleh-oleh ingatan masa kecil adalah penjual alat masak-masakan dari tanah liat yang dicat warna-warni hijau, merah, kuning. Kemudian pasar ini akan bubar beberapa hari sebelum ramadhan dan bisa menjumpainya lagi sambil berdoa ‘semoga aku bisa bertemu ramadhan tahun depan, amin’.

Kenduri Penanda

Acar mentimun, sambal goreng kentang, ayam ikung, daging balado, tumis kacang dan sepasang tempe dan tahu. Varian makanan tersebut akan tersaji dalam satu kardus nasi lengkap dengan pisang kadang-kadang masih dengan jajan pasar.

Buka Bersama Di rumah

Kenduri ini disebut dengan ‘megengan’ merupakan ‘mapak tanggal’ yang artinya menjemput tanggal, menjemput bulan ramadhan. Upacara ‘megengan’ ini dilakukan oleh setiap rukun tetangga (RT) dimana setiap satu rumah membawa makanan sekitar jumlah anggota keluarga. Kemudian pada hari yang ditentukan maka semua kaum laki-laki akan berkumpul untuk ‘megengan’. Rankaian acaranya sendiri terdiri dari doa-doa yang dirapalkan oleh tetua setelah bapak-bapak maupun lelaki muda merapat melingkar disekitar makanan ‘besekan’. Sesudahnya bolehlah semua orang membawa pulang makanan. Ini menjadi bagian penting bahwa kami bersyukur atas datangnya ramadhan dan tidak lupa saling memberi bersama untuk melanggengkan persaudaraan.

Suara Penanda

“Suara-suara kebaikan untuk menggugah kebaikan dari kebaikan hati-hati yang sederhana”
Pukul dua lebih dini hari, terdengar suara ‘sahur…sahur’ dengan irama yang teratur disela-selanya terdapat suara khas yang lazim dikenal dengan kentongan. Kentongan adalah alat musik yang terbuat dari bambu kering dimana untuk menghasilkan suara yang nyaring harus dilubangi bagian tengahnya.

Meski telah bertahun-tahun, dinasti kentongan sahur ini masih bertahan di desa saya. Regenerasi dilakukan biasanya oleh mereka yang mengajak adik-adik sepermainan mereka kemudian setelah dewasa dilanjutkan oleh adik-adik tersebut. Usianya? Jangan membayangkan mereka yang sudah dewasa, anak-anak mulai dari kelas 1 SD sudah mengikuti kentongan sahur ini dan maksimal kelas 6 SD. Pasukan kentongan sahur memiliki base camp yang terbuat dari bambu-bambu pula, biasanya dibilang angkruk, cangkrukan dan semacamnya. Menjelang waktu waktu sahur mereka akan berkeliling kampung dengan kentongan masing-masing.

Ketiga penanda tersebut menjadi serupa pasukan terdepan yang menjemput dan megiringi ramadhan. Serupa harmoni yang ditunjukkan oleh desa, begitulah masyarakat menjaga dan mengawal ramadhan. Saling memberi, mengingatkan dan silaturahmi.

Begitulah ramadhan disini, bagaimana disana?

About

View all posts by

2 thoughts on “Harmoni Ramadhan #GregetRamadhan

  1. Asyik banget semua keriaannya.
    Penyambutan ramadhan terasa spesial.
    “Dinasti Kentongan”… astaga kepikiran aja istilah ini hehehe

    Oh ya, semua keriaan ini di desa apa namanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *