Stories

Heart By Design

“Satu caramel machiato atas nama Kakak Arterra,” dengan nada tanya memastikan pelayan coffee shop itu memberikan cup di tangannya pada perempuan yang sudah berkata iya dan mengucapkan terimakasih.

Sambil memasukkan handphone ke dalam tasnya Terra berjalan memasuki ruang setelah bartender coffee shop tersebut. Kursi dengan desain yang berbeda – beda secara acak ditata di ruangan itu. Terra bersyukur setidaknya kini ada banyak coffee shop dengan desain interior yang berupa – rupa. Kini pergi ke coffee shop ada kalanya adalah semacam piknik baginya.

Tatapannya yang beredar beberapa detik mencari tempat berhenti di salah satu meja dipinggir jendela menghadap ke jalan. Namun, sedetik kemudian tatapannya beralih ke meja disebelahnya.

“Dokter jantung boleh minum kopi juga?” sapa Terra dengan canggung yang sambil mencoba memastikan laki – laki di depannya memang orang yang ia kenal.

“Hey? Kok kamu bisa disini?” laki – laki itu kemudian berdiri dari kursinya.

Terra tersenyum sambil mengangkat cup kopinya. Selanjutnya keduanya sudah terduduk dalam satu set meja kursi kayu yang sama.

“Aku kirain masih di Inggris,” ujar Terra setelah memastikan letak duduknya dengan baik.

“Baru aja pulang, aku yang ngira kamu masih di  Finlan,” balas laki – laki itu.

“Sama, aku juga baru aja pulang. Sejauh – jauhnya bangau terbang dia akan tetap memilih untuk pulang. Walau demikianla nasib orang desain di Indonesia,” Terra mengangkat cup di tangannya.

Kemudian tanpa sengaja tangannya membuat jatuh beberapa tumpukan kertas yang Ben baca sebelumnya.

“Eh, sorry!” Terra buru – buru mengambil kertas – kertas yang jatuh.

“Aku jadi inget replika raksasa jantung manusia di atas pintu masuk Old Custom House di tepi pelabulan kota di Finland tahun 2012,” katanya sambil menyerahkan kertas itu pada laki – laki dihadapannya. Memorinya kemudian terbang ke gudang berusia lebih dari seratus tahun dengan gaya arsitektur Neo-Renaisans.

“Oh.. di Minggu Desain Helsinki ya? Dulu temenku sempat ngajak kesana katanya ada jantung raksasa, tapi nggak jadi.”timpal Ben.

“Terlalu sibuk dengan cardiovascular mungkin,”  balas Terra dengan nada menyindir.

“Pengennya sih nggak belajar jantung terus, tapi jantungan juga kalau nggak bisa lolos kuis professor,” sambil tersenyum laki – laki itu membalas.

“Hahaha, nggak apa – apa.Seenggaknya sekarang ada satu lagi dokter jantung keren di negara ini yang rawan banget orang kena sakit jantung gara – gara negaranya.”

“Kenapa ngambil spesialis jantung? Nggak takut apa jadi orang yang membedah gitu yang orang dibedah nggak tau itu apa,” lanjut Terra kemudian.

“Hmm… nggak tahu. Dulu nggak sengaja aja, kesininya jadi asyik. Jantung punya banyak rahasia.” Jelasnya singkat.

“By the way, kenapa kalau ada apa – apa dengan diri seseorang jantung dulu yang kerasa? Misal kehilangan, gagal, sedih padahal nggak punya sakit jantung tapi sakit juga,” tanya Terra tiba – tiba karena itulah yang dia rasakan sekarang setelah gagal mempresentasikan desainnya pada klien.

“Pengaruh neorohormonal sih. Sederhananya, kalau stress saraf simpatis yang naik jadi berefek kemana – mana. Salah satunya bikin jantung berdebar, berkeringat dan lain – lain. Tapi, harusnya makin dewasa seseorang semua yang diproses otak akan beradaptasi semakin baik menghadapi semua itu,” ujar Ben kemudian.

“Kayaknya jantung terlalu punya banyak misteri, seperti hidup ini,” Terra memandang nanar ke arah luar jendela (lagi).

“Kamu tau nggak kenapa dinding jantung yang memisahkan rongga – rongga jantung pada bagian serambi lebih tipis ketimbang dinding yang terdapat pada bilik?” tanya Ben.

Dengan polos dan melupakan ilmu biologinya waktu SMA Terra menggeleng.

“Soalnya dinding yang membatasi bagian bilik harus bekerja lebih keras karena bilik harus bisa melawan gravitasi bumi saat memompa darah dari bawah keatas. Jadi, kamu harus tahu rahasia kecil bahwa meskipun kamu sedang menyerah dan merasa kalah di dalam diri kamu ada yang terus berjuang dengan kekuatan yang besar supaya sistem lain lancar. Artinya, kamu nggak boleh menyerah dengan hidup ini,” tutur Ben dengan runut.

“Salah nih kesini, aku jadi kuliah soal jantung,” canda Terra sekenanya.

“Hidup ini terlalu istimewa seistimewa jantung yang Tuhan berikan pada kita, Terra,” Ben membenarkan kacamatanya.

Terra terdiam kemudian melemparkan seulas senyum.

“Kamu kerja dimana sekarang? Dan, mau ngapain selanjutnya?” sahut Ben lagi.

“Duh, pertanyaan paling susah diajukan.” Ada jeda beberapa saat sampai Terra berkata, “Let go, Let God.”

“Hmm, masih inget nggak pelajaran SMA kalau jantung itu memiliki dinding dan juga otot jantung?” Ben melihat wajah gadis dihadapannya itu tidak bersinar, naluri seorang dokter belajar gesture pasien.

Terra menggeleng sekali lagi. “Duh Ben, bisa nggak si jangan ngajak aku mikir yang berat – berat? Beban hidupku sudah berat,” sambil tertawa Terra meneguk Caramel Machiato yang sudah berembun.

“Karena jantung itu bagian penting bagi tubuh manusia ia harus mendapatkan perlindungan khusus. Jantung diliputi oleh dinding jantung yang berisikan otot jantung. Dan, jenis otot jantung ini adalah jenis otot yang hanya ada di jantung saja nggak ada di bagian tubuh lain. Istimewa bukan? Seperti manusia yang istimewa, mereka pasti punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Tugas manusia adalah harus cukup menyadari itu supaya selalu dalam kebaikan walaupun sedang dalam hal buruk,” tutur Ben.

“Hmm… gitu ya?”

“Satu lagi, jantung itu punya empat klep yang fungsinya untuk menentukan arah darah mengalir, seberapa besar jumlah aliran darah tersebut dan juga menghentikan aliran darah. Klep – klep tadi harus membuka dan menutup agar tidak terjadi aliran darah yang bolak – balik. Seperti peredaran darah, manusia pasti pernah dalam keadaan pekat oleh karbondioksida, tapi ada kalanya kembali lagi penuh dengan oksigen. Tapi, sayangnya manusia sering kembali terbenam pada hal – hal buruk di masa lalu padahal di dalam jantung mereka tidak boleh ada darah yang bersih kembali ke daerah yang kotor. Setiap bilik dan serambi sudah memiliki tugasnya sendiri – sendiri, mereka terus melakukan sirkulasi. Selalu berjalan maju, tak pernah kembali kecuali telah menyelesaikan tugasnya.” Ben kemudian tersenyum ke arah perempuan dihadapannya.

“Jadi gitu? Kisah hidup juga punya bagian sendiri – sendiri untuk mengajak kita terus mengalir ya?” kali ini Terra tertawa lagi. Mencoba menertawakan dirinya sendiri.

Senja semakin memerah di luar. Alam berbahasa menyudahi keindahannya untuk hari ini. Ada banyak cerita dalam diri manusia jika kita sempat mengatakannya.

“Manusia itu adalah dokter untuk dirinya sendiri sebetulnya,” tambah Ben kemudian.

“Kalau gitu manusia nggak butuh dokter, habis ini mungkin aku bikin desain interior belajar dari serambi dan bilik jantung.” Terra kemudian tertawa sembari menimbang caramel machiatonya yang tinggal beberapa mili.

“Yakin manusia nggak butuh dokter?” tanya Ben.

Terra kali ini mengangkat bahunya.

image

Jakarta, 151101 – 17.00
Sekedar inspirasi yang menghampiri dari arteri dan vena.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *