Stories

Here To Stay

Kabin pesawat beberapa menit yang lalu masihlah menjadi catwalk pramugari bercorak batik dengan rok panjang menjutai. Gelas sintetis yang berisi sari apel favoritku juga baru saja tandas ketika tiba – tiba pesawat ini bergoyang hebat. Langit yang sepelemaran pandangku tadi berwarna biru kini bergulung kelabu, berkecipak air hujan turun seperti senapan yang ditebakkan dari segala penjuru. Lampu penggunaan sabuk pengaman kemudian menyala dan aku mendengus pelan. “Liburan dambaanku kacau,” ujarku dalam hati.

  Pesawat ini akhirnya kembali ke bandara semula, entah apa yang terjadi. Ini janggal ditengah musim kemarau yang kerontang ada badai yang mengamuk dasyat. Perempuan di sebelahku yang sejak tadi mengenakan headset pun seperti kecewa. Air mukanya yang sendu sedari memasuki kabin pesawat makin pucat pasi.

  “Hey, kau tak apa?” tanyaku mencoba simpati.

  “Eh? H-ey? Iya aku baik – baik saja,” jawabnya dengan nada bingung dan sangat pelan.

  Kami semua kembali memasuki terminal untuk menunggu. Beberapa wajah gontai, jemari yang sibuk menelpon serta tatapan makian – makian pada langit. Daripada aku melihat tampang – tampang kacau tak bersahabat seperti mereka aku putuskan untuk keluar dari area terminal dan menuju ke salah satu toko buku di kawasan bandara. Iklan terbaruku tercetak di salah satu majalah bonafit orang bule minggu lalu dan aku belum sempat membelinya.

  Ketika aku selesai membayar di kasir, perempuan yang tadi disebelahku nampak duduk dengan gusar di kursi persis berseberangan denganku. Rambut panjangnya terayun pelan oleh angin, ia menatap handphone di genggamannya dengan gamang. Lalu toko buku ini entah mengapa memutar lagu ini, Here To Stay – yang beberapa bulan lalu selalu aku putar ketika aku ingin keluar dari pekerjaanku saat ini. Aku tertawa kecut menyumpahi petugas itu dalam hati, namun ekor mataku menangkap ekspresi perempuan di sebrangku tadi yang justru melonjak kaget tepat waktu lagu itu dimulai.
  
Nona Vokal
I don’t know anymore
I don’t know what I’ve been fighting for
But something inside me won’t go quietly

“Bukankah harusnya sekarang aku sudah pergi jauh meninggalkan kota ini? Mengapa aku harus kembali lagi?” runtukku kini menatap langit dengan penuh tanya. Aku mengedarkan pandang ke sekitarku mencoba bertanya bisakah dalam badai ini kita tetap pergi. Aku menunduk lesu kemudian membuka tas jinjing yang sebelumnya sudah aku isi beberapa buku bacaan. Handphone dalam genggamanku masih airplane mode sejak semalam , dan entah mengapa aku ingin mengaktifkannya.

To : You
  Aku pergi. Maaf tidak sempat berpamitan.

  
  Sepersekian detik pesan itu melesat sempurna ke pemilik yang dituju.
  
  From : You
  Kamu dimana?

And I could be anywhere
‘Cause we’re all breathing the same air

Pria Konsonan
  Perempuan di seberangku kini makin sibuk dengan handphonenya. Air mukanya benar – benar seperti air, cepat berubah – ubah. Astaga perempuan mengapa begitu melankolis? Kemudian kini dia terkesiyap, entah pesan apa yang baru ia terima.

Nona Vokal

  It goes inside and makes me feel alive

“Mengapa dia membalas cepat sekali? Bukankah harusnya dia sedang sibuk?” tanyaku dalam hati yang entah mengapa bekecambuk berbagai rasa – sedih, bahagia, dan mungkin rindu.
  
And all I can say is, all I can say
 
  To : You
  Aku di Bandara sekarang.

Pria Konsonan

Ketika aku sibuk membalik halaman – halaman majalah aku menangkap gerakan ragu – ragu perempuan di hadapanku. Ah, drama. Pasti dia sedang berdrama dengan kekasihnya. “Mengapa manusia senang sekali dengan drama?” batinku lagi sambil menatap lalu sosok perempuan itu. Dan, pada saat yang bersamaan aku lihat seorang laki – laki tepat dari arah pintu masuk berjalan dengan hati – hati ke arah perempuan tadi. “Nah, drama dimulai. Kalau ini judul yang tepat mungkin Ada Apa Dengan Mereka,” sanggahku dalam hati sambil meletakkan majalah di sebelahku dan tertarik mengamati mereka berdua sambil mengetik status 140 karakter.
  
  Coba dulu udah ada handphone, Cinta kayaknya cukup telepon dan bilang‘jangan pergi Rangga’. #TerAADC

Nona Vokal

  I am here and I will be
Following my own way
Forever and a day
I am here and I’m here to stay

  “Sebetulnya aku ingin menelponmu, tapi aku takut tidak kamu angkat,” katanya sambil menatapku.
  “Syukurlah kamu tidak melakukan itu. Kalau kamu menelponku, sejak semalam aku tak mungkin bisa pergi,” ungkapku sembari tertawa.
  “Maaf aku harus pergi, aku takut semakin lama aku bersamamu aku semakin takut untuk pergi suatu hari nanti,” jelasku mencoba menatap matanya sungguh – sungguh agar ia mengerti alasanku ada disini.
  “Aku tidak pernah mengijinkan kamu datang lalu untuk apa aku mengijinkan kamu pergi?” ujarnya masih menatapku.
  
Oh, we are here and we will be
Following our own wayNo matter what you say
We are here and we’re here to stay
We are here to stay

Pria Konsonan

Aku masih memperhatikan mereka berdua yang kini tengah membicarakan entah apa. Rasanya sudah lama aku tak pernah memperdulikan apa itu ‘cinta’ dan semacamnya. Melihat adegan termehek – mehek di depan mataku sedikit mengganggu memoriku dan sesosok yang nyaris sempurna tergurat disana. Tamaya. Sungguh aku masih percaya janjinya untuk selalu bersamaku adalah sempurna, walaupun kerluarganya mati – matian tidak menyetujui hubungan kami karena aku hanyalah ‘freelancer’ ibu kota tanpa jaminan pesiunan nanti. Walau akhirnya dia kalah juga oleh dirinya sendiri, dan entahlah apa kabarnya. Aku sudah enggan untuk peduli meskipun kini gajiku pasti mampu membuat orang tua Tamaya melonjak bahagia.

No matter where you roam
Anywhere you lay your heart’s your home
Stand your ground if they push you down
Because all you can say is, all you can say

  “Karena aku berani mencintai kamu, maka aku juga harus berani untuk melepas kamu Tamaya,” ujarku waktu itu dihadapannya. Wajah putihnya dan bola mata biji leci itu berair seketika. Entah perasaan apa yang ada di hatinya, bahagia atau berduka. Kemudian tepat tujuh bulan enam hari sejak hari itu aku dengar dia sudah bertunangan dengan seseorang yang bekerja di perusahaan oil dan gas, dua bulan sesudahnya mereka pulang ke Qatar. Otakku selalu berdenyut ketika mengenang saat – saat itu. Sudahlah lupakan.

We are real and we feel it
When you deny us
Or when you get tired of us
We are here and we’re here to stay
We are here to stay

Nona Vokal

  “Sebenarnya kita sama – sama keras kepala,” tandasnya sambil melihat ke arahku.
  “Iya, kamu batu,” sahutku cepat.
  “Kita sama – sama batu. Bedanya kamu batu yang memukulku terus – terusan, sedangkan aku batu yang diam saja,” tambahnya kini.
  “Iya, aku batu yang hancur,” tambahku lagi sambil membuang muka.
  “Nggak, kita sama – sama hancur,” balasnya lagi.
  “Astaga, dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa – bisa bermetafora?” runtukku dalam hati.
  Sejurus kemudian aku memukul lengannya. Tapi, dia mencegah tanganku lalu mengunci badanku dalam pelukannya.

Nona Sisipan

Dan, ketika semua adegan tentang laki – laki yang entah sedang melamunkan apa dan di sisi yang lain ada seorang gadis yang tengah menangis di lengan seorang pemuda lagu Here To Stay ada di ujung liriknya.

I never knew when enough was enough
Or whether to stay when the going was tough
But I won’t let a little heart be afraid
And all I can say is, all I can say

   “Terima kasih telah berkunjung ke toko kami,” ucapku sambil tersenyum ke arah customer yang baru saja membeli buku.
   “Ah, bekerja di toko buku di bandara itu terlalu aku sukai,” batinku menatap mereka semua.
  
 
  
  22.00 P.M
  140925
  
 Cogito Ergo Sum – Aku berpikir maka aku ada
Setiap orang punya cara untuk ‘tinggal’ sendiri – sendiri.
 Here to Stay – by Lenka

Pengarang Konsonan, Vokal dan SIsipan

Lanjutan cerpen sebelumnya, Leaving – On A Jet Plane

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *