I Am Sarahza : Memelihara Harapan dengan Doa

Buku berwarna ungu dengan gambar janin dengan warna biru karya Mbak Hanum dan Mas Rangga ini membuat saya berkaca-kaca menyeka air mata, tersenyum sesekali, dan merapal banyak doa kuat kuat. Saya pernah bercita-cita ingin seperti Mbak Hanum yang bisa menemani suami sekolah ke luar negeri, tapi ternyata saya tidak pernah benar-benar menyadari bahwa mereka berdua belum dikaruniai keturunan saat mereka benar-benar sedang sukses dengan buku dan filmnya.

I Am Sarahza setebal 364 halaman terdiri dari pilinan cerita tahun demi tahun pernikahan Mbak Hanum dan Mas Rangga perjuangan dalam menanti buah hati selama 11 tahun. Dalam buku ini terdapat 3 point of view, Mbak Hanum, Mas Rangga dan Sarahza. Mbak Hanum dan Mas Rangga menurut saya sangat jenius dengan menghadirkan Sarahza yang digambarkan masih di Lahumul Mahfuz yang menambah rasa yang mendalam dari buku ini.

Para laki-laki perlu membaca buku ini untuk belajar banyak hal seperti kesabaran, ketenangan serta bisa menggombal sesekali melucu. Salah satu part paling lucu tapi begitu manis ialah saat Hanum dan Rangga mencoba sebuah program kehamilan di Wina kemudian gagal. Dalam scene itu Rangga mengajak Hanum menanam bunga tulip dan menggombal tentang air mata :

“Kalaupun kita belum berhasil menumbuhkan calon manusia dalam rahimmu, kita bisa menumbuhkan tanaman dari rahim bumi,” ujar Rangga.
“Sejak kapan suamiku nyambi jadi petani bunga di Austria? Kok nggak bilang? Kasihan banget,” sindir Harum.
“Tau nggak, menurut satu jurnal, air mata manusia itu mengandung banyak pupuk berkhasiat. Tulip ini bakal tumbuh lebih cepat kalau kamu kasih tuh air matamu berderai-derai. Bermanfaat. kata Rangga”

Bagi saya sendiri buku ini menjadi pengingat bagaimana keputusan berat mengalahkan ego seorang perempuan tentang karir tidaklah ada apa-apanya jikalau harus ditukar dengan kodrat mereka menjadi seorang ibu dan istri. Diceritakan disini Mbak Hanum pernah begitu berambisi untuk menjadi presenter di TV dan pernah harus menjalani hubungan jarak jauh dengan sang Suami. Serta sempat terbersit tak mengapa tak memiliki buah hati asalkan ia bisa terus berkarir di TV. Inilah refleksi bagaimana takaran tepat pada peran perempuan dalam karir dan karya namun tetap ingat kodratnya. Salah satu bagian quarter life crisis yang saya alami sendiri memilih karir apa bagaimana.

Dalam buku ini ada banyak sekali kalimat-kalimat yang indah penuh makna. Mbak Hanum dan Mas Rangga benar-benar berhasil mengambil ibrah dari setiap tahap hidup mereka, mulai dari cara mereka bertemu hingga mereka dikaruniai putri. Buku ini serupa seperti menceritakan perjalanan spiritual keduanya bagaimana memperkokoh cinta mereka berdua serta cinta pada Sang Pencipta.

Buku ini sangat cocok untuk mereka yang bukan hanya menunggu buah hati, namun juga mereka yang merasa kehilangan harapan merasa putus asa.

Lima bintang untuk buku ini.

Dalam buku ini :

“Bumi Allah itu luas, berkarya bisa dimana saja. Jadi perempuan pembahagia suami itu lebih konkret daripada apa pun yang kamu kejar sekarang ini,” – Hlm 63
“Jangan diburu-buru, jangan digesa-gesa, nanti suratnya kurang indah,” – 78
“Melarut dalam kesedihan atau melecut diri mengejar harapan,”- 87
“Karena pusat kesempurnaan adalah milik Allah. Sejauh apa pun kaki manusia melangkah, tidak akan mungkin melampaui ketetapan takdir Allah.” – hlm 99
“Harapan memang satu-satunya senjata yang kami punya sekarang ini. Dan, ketahanan adalah kemenangan kami.” – hlm 225.
“Loving dan Losing memang hanya beda sehuruf. Namun berlawanan makna, berjarak miliaran rasa.” – Hlm 241.
“Depresi memaksa inangnya mencari jalan terang, meredefinisi makna hidup,” Hlm 285.
“Acceptance, penerimaan sejati, kembali ke fitrah sebagai wanita,” – hlm 304
“Impian yang terwujud, tanpa iman, tanpa menyertakan keluarga di dalamnya, hanya akan menjadi ilusi selamanya,” – hlm 304.
“Kesabaran tak melulu kemampuan menunggu, namun kemampuan mengisinya dengan keberkahan.” Hlm 317.
“Aku tidak ingin mempertanyakan lagi kekalahanku. Aku hanya berharap Tuhan memberikan kemenangan di mata-Nya.” – Hlm 322.

About

View all posts by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *