Stories

KURSI (KITA)

Wangi roncean melati menyatu sepanjang altar. Semerbak mawar menyumbat penciuman terkungkung dalam pernafasan. Krisan mekar asri memenuhi sudut ruang. Kursi tak berjajar banyak hanya beberapa di tengah ruangan dengan label “family” dan selebihnya ada di pinggiran serupa pagar mengapit bilik – bilik makanan. Ini pesta pernikahan. Nuansa ungu mendominasi, kata orang ini pasti warna kesukaan mempelai. Gelas – gelas berderai saat disatukan, orang bilang itu bersulang.

“Ini pacar saya Mbak,”  ujarmu saat itu kepada salah seorang teman yang kita temui di koridor kampus.

“Oh ya, wah semoga langgeng ya,” doanya kemudian sembari menepuk bahuku. Aku hanya mampu tersenyum dan bernafas lega karena akhirnya kau mengatakan semua itu.

Semburat orange bunga flamboyant memenuhi boulevard. Satu dua gugur ditimpa hujan Januari, beberapa gugur diterbangkan angin sesudahnya.

“Akan dibawa kemana hubungan ini?” tanyaku padamu sembari menyesapi jagung bakar belatar hujan.

“Kalau mau muluk – muluk sampai pernikahan,” jawabmu sembari menghadapku dan memainkan jagung ditanganmu.

“Hm,,,, semoga,” sergahku lagi.

Sebetulnya sebelum hari itu aku juga tahu akan jawaban itu. Bukankah manusia juga memiliki karunia Tuhan bernama firasat. Pernikahan selalu menjadi dambaan muara semua pasangan, tapi bukan kamu walaupun aku mendamba.

“Hey, selamat ya semoga langgeng,” doa seseorang yang aku dengar lamat – lamat.

“Amin,” jawabmu sembari tersenyum.

Semakin lama semakin penuh ruang ini, beberapa tamu terlihat masih sibuk dengan makanan ditangan mereka. Sebelumnya barisan menuju pelaminan masih mengular berderet seperti semut. Mereka adalah kolega ayahmu, ibumu juga pastinya. Sejauh ini aku belum menemukan teman – teman kita dan itu membuatku sedikit lega.

Aku masih berdiri saat itu, karena lelah aku memutuskan untuk duduk. Pasti itu pula yang akan kamu suruh ketika aku lelah, dan kursi akan selalu kamu berikan pertama padaku sebelum akhirnya kamu duduk.

“Hey, kursi sebelahmu kosong?” tanya seseorang mengagetkan lamunanku.

“Oh… iya, silahkan,” ujarku sembari mengusap mataku yang basah.

“Mau kopi?” tanya kemudian.

“Tidak, terimakasih,” jawabku singkat.

“Kamu tahu kopi? Pahit, dan hitam,” katanya dengan air muka terlalu bijak untukku saat ini.

“Pahit dan membutuhkan gula untuk menjadikannya sempurna dan disukai oleh orang banyak, atau dia hanya akan dinikmati oleh pecintanya saja jika terlalu pahit dan pekat,” tambahnya kemudian sembari mengamati aku menyeka mataku yang semakin basah.

Setiap rasa akan jadi sempurna ketika bukan hanya satu. Ketika satu rasa saja tidak akan ada yang terlalu sempurna.

Hari ini akhirnya aku dan kamu berada disini. Disisi dimana keluargamu akhirnya memilihkan mantu terbaik untuk mereka.  Dan, kamu duduk disana bersebelahan dengan jodoh yang semenjak kamu lahir kamu tahu bahwa akan kamu temukan lewat mereka, kedua orang tuamu. Perjodohan, itu sudah kamu tahu dan tidak pernah kamu tepis. Hanya saja pernah kamu ingkari untuk mengisi masa – masa bebas tanpa tekanan sempurna orang tua.

Akhirnya aku disini, di tempat yang sama dengan kursi yang berbeda.

“Sudah mengucapkan selamat pada mempelai?” tanya laki – laki tadi kepadaku.

“Belum,” jawabku sembari mengamati kopi ditangannya yang ternyata telah habis.

“Mari bersama denganku kebetulan aku datang sendirian,” ajaknya kemudian.

Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya menemuimu untuk terakhir kalinya. Mengucapkan selamat dan pulang bersama remah – remah rasa.

 

20/1 – 02.52

Arfika

 

 

Gambar di pinjam disini 

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *