cup of mine

Married Thought

Mulai memikirkan pernikahan pada akhir masa studi S1. Setelah memikirkan kenapa seringkali orang jatuh cinta harus sakit hati bahkan ada juga yang patah hati, sebetulnya apa jawaban paling benar dari hubungan dua manusia? Jawabannya adalah pernikahan. Begitulah sunnah rosul, syariat agama yang tertulis dalam kitab-NYA.

Tidak ku temukan solusi dua orang yang jatuh cinta selain pernikahan. – Quote

Saya rasa quote itu benar adanya. Sakinah, mawadah, warahmah dan berkah tidak turun dalam pacaran tapi adanya ya di pernikahan.


Menikah dan Berdamai Dengan Diri Sendiri

Entah ini hanya simpulan saya atau memang begini. Menurut saya setiap orang pasti memiliki misi-misi dalam hidup mereka termasuk menikah. Namun, bagi saya setiap orang sering kali memiliki alasan untuk tidak menikah dulu seperti ‘mau berkarir dululah, mau senang-senang dululah’ dsb. Dan, itu alasan yang sah-sah saja justru itu penting karena setiap kita wajib mengasah setiap potensi. Setiap orang berhak dengan semua misi mimpi mereka masing-masing. Maka, untuk mencapai pernikahan yang nantinya tidak terasa ‘merepoti’ menurut pendapat saya perlulah setiap individu untuk berdamai dengan diri mereka sendiri. Kalau memang masih pengen egois ini itu-ya jangan menikah dulu. Karena menikah nggak cuma satu kepala tapi banyak kepala, banyak keinginan dan ekspektasi.

Jadi,

selesaikan yang mau dicapai dulu

toh nikah memang nggak cepet-cepetan kan? Soalnya kalau belum jodoh ya nggak bisa :’D

Ini Masalah Niat

Pentingnya niat. Bukankah dalam agama juga dikatakan segala sesuatu itu selalu kembali pada niatnya. Meluruskan niat ini penting agar yang kita tuju nantinya bukan abu-abu tapi real yang harus kita tuju sebagai bagian hidup kita yang utuh.


Menikah, Hadir Penuh Sadar Utuh

Jangan nikah karena dipaksa, terpaksa, memaksa.

Menikah karena sadar secara penuh. Biar enak jalan berduanya 😛

Pada apa-apa yang sudah terjadi, nyatanya kita tidak pernah siap untuk benar-benar siap. Sampai kapanpun kita takkan pernah siap. Begitu katanya. Kalau nggak menjalani kita tidak akan pernah tahu, begitu simpulan dari banyak kejadian yang sudah terangkum. Kita terus belajar sampai mati.

Memikirkan Konsep Keluarga – Visi-Misi

Kalau 1 Visi pasti 1 cinta, kalau 1 cinta belum tentu satu visi.

Ini penting demi menuju yang benar. Pasti ada dong Key Indeks performance yang mau dicapai dalam berkeluarga. Biar lurus dan selaras semuanya. Lebih mudah melangkah kemana mananya kalau udah sevisi dan semisi. Keduanya berarti saling tahu, mendukung dan beriringan.

Aku ingin diiringi bukan digiring.


Menikah adalah Menerima

Menikah adalah menerima. Mungkin kita selalu mengandaikan yang sempurna. Ah… lupakah kalau diri sendiri jauh dari kata sempurna? Kadang sekarang sering tanya, apa yang kita bilang sempurna pasti membahagiakan? Apakah pasti cocok?

Maka menikah adalah menerima seseorang yang baik bagi kita, tak perlu semuanya cocok-yang penting kita dia cocok keluarga keduanya setuju. Lalu nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Dia menerima kita dengan A-Z dalam hidup kita dan kita menerima dia dari 1 hingga tak terhingga. Saling menerima, belajar memahami dan terus saling mendoakan memberikan semangat dengan tulus. Seumur hidup.

Justru kita ada untuk saling melengkapi bagian yang tidak lengkap bukan?

Skenario Tuhan

Saya juga nggak tahu gimana nanti bisa ketemu sama jodoh. Lewat jalan mana saya juga nggak tau. Saya yakin hari itu akan tiba pas waktunya. Saat ini cuma bisa relax sambil doa. Biar hatinya kuat karena banyak sekali godaan :’) terutama dalam diri sendiri. Takut-takut jatuh lagi, salah lagi, sakit lagi, nangis lagi, bangun lagi, tergoda lagi, kayak gini mau sampai kapan? :’D pengen banget lulus soal urusan hati.

Saya percaya ALLAH punya rencana pada hidup saya masalah ini. Mengimani qada dan qadar. Bahwa yang telah terjadi pada saya adalah bagian dari rencanaNya pada saya untuk terus memperbaiki diri dari diri. Memperbaiki diri sejatinya untuk diri kita sendiri, berumah tangga katanya tantangannya lebih banyak soalnya 😛

Takdir mulai berbicara dengan bahasanya. Tapi, aku tidak pernah bermaksud menebak maksudnya. Aku mengikutinya, membuntuti serupa rombongan itik yang tertib dalam barisan.

Sejak kejadian demi kejadian kadang aku takut pada rasa dalam hati. Aku takut melewati hari-hari memayahkan dengan hilangnya nafsu makan bahkan kehilangan diri sendiri. Aku ingin berhati-hati merawat hatiku. Memperbesar cinta pada DIA hanya berharap pada DIA.

Kita akan bahagia dengan siapapun jodoh kita

🙂

Terus Berproses,

Rumah, 15.04 -23 Juni

*gambar dipinjem dari sebuah akun di Facebook, lupa linknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *