Stories

Marry Your Daughter

Sir, I’m a bit nervous
‘Bout being here today

“Ayah, doakan anakmu hari ini,” batinku dalam hati mencoba merasakan keberadanya di belakangku.

Meja yang tidak begitu tinggi itu entah seberapa magis hingga bisa berdiri memisahkan aku dengan laki – laki yang harus kujabat erat tangannya demi wanita di sebelahku saat ini. Dan, entah mengapa aku merasa bahwa suhu ruangan masjid ini mendadak menjadi lebih dingin daripada biasanya. Mencoba berkali – kali aku merapal doa serta kalimat itu yang didalamnya ada nama seorang gadis dan seorang laki – laki dihadapanku.

Still not real sure what I’m going to say

“Saya terima………………………………………………”

So bare with me please

Bulan pertama sebelas bulan lalu

Matahari di barat tepat di belakang punggungku ketika aku memasuki tempat ini. Jembatan sepanjang beberapa meter itu telah aku lewati sampai aku ada di area ini. Ada saung – saung kayu yang penuh, ada banyak pelayan yang sibuk mengantar makanan, mencatat atau menawarkan menu. Aku sudah menduga sebelumnya bahwa weekend bukan pilihan tepat untuk datang kesini. Saking ramenya semua tempat sudah terisi penuh, untunglah kursi favoritku di bagian timur laut apung ini masih kosong.

“Anda sendirian? Boleh bergabung?” tiba – tiba sudah berdiri seorang perempuan yang menenteng tas dan se-cup gelatos ditangan yang lain.

Aku mendongak sembari tersenyum sebagai sopan santun yang selalu Ayahku ajarkan, “Oh iya, silahkan,” sambutku padat. Aku mendengus dalam hati namun cukup memaklumi. Keadaan ini agak sedikit menyebalkan untukku, berbagi meja atau duduk dengan orang tidak aku kenal bukanlah minatku. Berinteraksi dengan orang, berbasa – basi adalah pekerjaan konyol. Ah, bukan begitu tapi aku tidak pandai berinteraksi dengan mereka. Aku akan lebih suka diminta menjelaskan konsep bebatuan dan lapisan bumi daripada sekedar bertanya kabar atau menceritakan kegiatan.

“Sudah pesan?” tanyanya kemudian seperti mencoba mengurai kecanggungan.
“Oh iya sudah, silahkan santai saja,” balasku singkat.
Dugaanku kurang dari lima belas menit dia akan segera pulang karena tidak ada tanda dia memesan makanan besar artinya aku bisa makan sendirian. Namun, ketika aku sudah menyelesaikan udang mayones dan cumiku perempuan itu sama sekali tidak ada tanda dia beranjak pergi. Lebih dari Perempuan itu justru sibuk dengan layar dihadapannya dan sesekali tadi menyendok gelatos di sampingnya hingga dasarnya habis.

Aku mencuri pandang ke arah layar dihadapannya.

“Anda sedang membaca keruntuhan Maya?” tanyaku ketika melihat foto situs Tikal satu stele lempeng batu berukir satu – satunya sistem tulisan pra-Kolombus yang berkembang di Dunia Baru ada di Mesoamerika, daerah tanah air suku Maya.
“Ah, iya kemarin profesor saya cerita terus pengen iseng baca,” balasnya melihat ke arahku.
“Tentang reruntuhan lebih dari seribu tahun lalu di Semenanjung Yukatan Meksiko penuh misteri itu,” cerita awalku padanya ketika pertama kali aku melihat pupilnya membesar.

“Oh iya, saya Arkhe,” ujarnya di tengah pembicaraan kami.
“Saya Kuarter,” sambutku kemudian.
“Nama anda unik sekali,” sambungnya dan pupilnya kembali membesar entah sudah berapa kali sejak aku bercerita tentang dendrokronologi hingga Anasazi.
“Unik atau aneh? Kuarter itu nama zaman 1,7juta tahun lalu sampai sekarang. Zaman Kuarter terdiri dari kala Plistosen dan Kala Holosen.Kala Plistosen mulai sekitar 1,8juta tahun yang lalu dan berakhir pada sepuluh ribu tahun yang lalu. Kemudian diikuti oleh Kala Holosen yang berlangsung sampai sekarang,” jelasku seperti biasa jika ada yang komplain dengan namaku.

“Ahahaha anda sedang memberi kuliah sejarah pada saya?” ia tertawa renyah seperti takzim dengan perkataanku sebelumnya.

“Sudah biasa, itu seperti program otomatis jika ada yang komplain dengan nama saya,” balasku kemudian. Saat itu untuk pertama kalinya aku nyaman berbicara dengan orang baru.

Okey, nice to meet you. Oh iya, by the way saya harus segera ke stasiun kereta saya berangkat satu jam lagi. Terimakasih untuk ceritanya tentang suku Maya tadi,” katanya sembari mengemasi netbook dan menenteng sampah bekas gelatosnya.

Akhir bulan, bulan pertama sebelas bulan yang lalu.

Bulan menyabit dan angin pantai berhembus pelan. Temaram lampu tempat ini menenangkan pikiran setelah hampir seminggu bersemedi di atas gunung. Tempat ini tidak penuh, namun tetap saja kursi timur laut itu selalu aku cari. Riak – riak gelombang air menepi dari kincir di tengah apung.

“Udang mayones dan cumi ya Mas, jangan lupa cah kangkungnya dan sambal trasi,” pesanku pada pelayan.
Setelah no signal hampir beberapa hari akhirnya aku ingat untuk mengaktifkan sistem handphoneku. Masuk banyak pesan mulai dari email dan notifikasi pesan singkat. Malas – malas aku mengecek satu demi satu hingga berhenti di satu layanan pesan singkat yang paling jarang aku gunakan. Ya, kini semua pesan singkat seperti mengajak berinteraksi terus.

Pesan Kita
Hay sahabat Pesan Kita, manfaatkan layanan terbaru kami ‘People Nearby’ untuk menemukan teman baru anda 😉

Sambil menunggu aku tekan kata ‘people nearby’ yang tertera di layar. Berputarlah lingkaran sebagai tanda loading program.

“Arkhe Metatara?” batinku dalam hati seperti mengingat nama seseorang.

Me : ‘Kota itu tak berpenghuni. Tak ada sisa – sisa ras ini berkeliaran di sekitar reruntuhan, berikut tradisi yang diwariskan dari ayah ke putranya dan dari generasi ke generasi. Kota tersebut terbentang di hadapan kami bagaikan kapal terombang – ambing di tengah samudra’

Ketikku iseng.

Dan handphone-ku bergetar

Arkhe Metatara : ‘dan tidak ada seorang pun yang bisa memberitahukan darimana dia datang, siapa pemiliknya, seberapa lama dia telah berlayar, atau apa yang menyebabkannya hancur.’

Balas akun itu kemudian.

Me : ‘hey, hentikan itu milik John Stephens.’

Arkhe Metatara : ‘Ahaha, lagi disini juga? Makan udang mayones dan cumi?’

Me : ‘jangan bilang kamu hanya pesan gelatos’

“Yah namanya juga masih mahasiswa, Mas” ujar seseorang tiba – tiba dari arah belakang.
“Eh! Mengagetkan saja, duduk. Pesan gelatos apa hari ini?” tanyaku padanya yang hari ini memakai cardigan maroon dan rambut yang dikuncir kuda.
“Kiwi sama Vanilla, kamu harus coba!” tanggapnya kemudian.

KL

If I take up too much of your time,

Bulan keempat disebelas bulan lalu

Alunan gambang Semarang mengalun pelan ketika kereta ini mulai melaju beberapa puluh menit yang lalu. Laut Jawa ada diseberang jendela yang masih menghangat dikala senja seperti sekarang.

See in this box is a ring for your oldest
She’s my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Very soon I’m hoping that I…

“Arkhe, ehmmm kamu mau nggak segera bikin private wedding party di Kampung Laut?” tanyaku ketika dia sibuk menyimak ombak.
“Maulah, tapi siapa yang mau nikahi mahasiswa master komunikasi abal – abal yang belum lulus ini?” dia tertawa tanpa melihat ke arahku.
“Uhmmm aku” ujarku lirih. Dan, saat itu dia terhenyak menoleh ke arahku.

Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life

Dan, di menit sesudahnya cicin bertahtakan batu Antrasit – batubara terbaik warnanya hitam mengkilat melingkar di jarinya.

And give her the best of me ’till the day that I die, yeah
I’m gonna marry your princess
And make her my queen
She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen

“Kenapa antrasit?” tanyanya seperti biasa selalu ingin tahu berlebihan.
“Diantara batubara, Antrasit adalah jenis batu bara terbaik mengandung kalori tinggi dengan kadar karbon antara 86 – 98% dan kadar air kurang dari 8% letaknya paling susah, paling dalam diperut bumi paling dilindungi,” jelasku panjang lebar.
“Ahahaha iya – iya profesor batu,” kali ini dia terbahak dengan lelehan air mata.

Can’t wait to smile – When she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

The day!

Ada sepasang kursi dan meja besi di bagian apung timur laut tepat biasanya daerah kafe kopi. Di depan nya ada meja – meja bulat diapit kursi berpita. Temaram lampu menghias ditepiannya dengan bulan menyabit di bagian langit tenggara. Daerah apung itu kini di dominasi warna putih dan pink. Sesungguhnya, aku tidak terlalu menyukai warna pink tapi apa daya Arkhe bersih keras toh ini memang private party-nya, akan lebih banyak temannya dibandingkan dengan temanku. Kata Ayah ketika menikah kita akan belajar untuk berpikir lebih panjang dan dua kepala jadi satu.

Kemudian ketika sampai di bagian ini aku sedang menyanyikan lagu ini tepat dia sedang menyambut teman dan sahabatnya. Oh iya, di pesta ini tidak ada altar. “Aku ingin berbaur dengan sahabatku bukan menjadi patung untuk foto saja,” alasannya waktu itu yang makin membuat jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya.

She’s been hear every step
Since the day that we met (I’m scared to death to think of what would happen if she ever left)
So don’t you ever worry about me ever treating her bad
I’ve got most of my vows done so far (So bring on the better or worse)
And tell death do us part
There’s no doubt in my mind
It’s time
I’m ready to start
I swear to you with all of my heart…

“Hey, selamat! aku memenuhi janji untuk datang.” Lamat – lamat aku dengar itu keluar dari seorang laki – laki yang baru saja datang.
Bersamaan itu aku datang menghampirinya, melingkarkan tangan pada pinggulnya.

The first time I saw her
I swear I knew that I say I do

Dan, entah dorongan apa yang terjadi. Tiba – tiba ada reflek mengulum bibir wanitaku – yang didetik berikutnya ada lelehan air mata yan terasa di pipiku tapi bukan dari mataku.

Di detik berikutnya aku baru sadar bahwa riuh sorakan jadi latar adegan ini.

Tempat berproses, 141008 – 00.48 a.m
tolong di aminkan. hehehehe. Makasih.
Maaf kalau bagian terakhirnya berlebihan 
See you when i see you!

Read more: Brian McKnight – Marry Your Daughter Lyrics | MetroLyrics
Inspirasi : Kampung Laut | blog mendongeng tentang Geologi http://rovicky.wordpress.com/2007/02/04/evolusi-1-sejarah-singkat-bumi-dan-kehidupannya/ | Buku : tentang runtuhnya peradaban – peradaban dunia

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *