Stories

Mata sang Burung

Ini kisah tentang seekor burung dan dua ekor bebek. Bebek pertama dikenal burung lebih awal. Keduanya sempat saling bertemu dan jatuh cinta saat kelas pengenalan ekosistem dan unggas-unggasan. Bebek pertama milik salah satu petani yang cukup kaya raya. Penampilannya selalu wangi, bulunya dipangkas rapi, warnanya putih berkilau. Burung sempat mendengar, “Bebek itu sangat priyayi sekali padahal,” ketika akhirnya burung kecil berkencan dengan bebek pertama. Burung tidak pernah tahu awalnya bahwa bebek adalah milik seorang petani kaya. Burung hanya jatuh cinta pada pandangan pertama, keinginanya untuk terbang selalu mudah teredam ketika bebek menghampirinya. Sayangnya mereka terlalu belia untuk saling jatuh cinta. Cuek bebek sering membuat burung merasa tidak dicintai.

Burung belajar terbang dan semakin dewasa. Kini ia berpindah ke hutan lain yang lebih ramai oleh rantai makanan. Disana burung terbang dengan begitu indah, sayapnya terlihat begitu kokoh dan semakin mempesona. Burung baru menyadari bahwa dengan cetakan rekor ketinggiannya terbang, maka makin banyak orang mengaguminya. Tanpa ia sadari bulu yang awalnya hanya berwarna coklat kini mulai menguning, ia sering mengagumi sayap, paruh dan tempurung kepalanya yang semakin membesar.

Di hutan baru, bebek pertama masih ada di sekitarnya. Sebenarnya burung tak pernah berniat mengikuti bebek pertama, tapi nampaknya takdir masih mempertemukan mereka. Burung pun mulai melupakan bebek pertama, karena semakin tinggi jam terbang. Ia perlahan berhasil melupakan bebek dan jarang bertemu bebek yang ada di ladang dan air terjun. Bebek sibuk belajar berenang dan membuat kandang. Walaupun bebek sesekali masih memanggilnya dari jauh untuk mengajak ia makan gandum.

Saat makin tinggi jam terbang, burung bertemu dengan bebek lain dalam sebuah konferensi hewan sekota ekosistem. Bebek kedua awalnya luput dari pandangan burung. Sampai akhirnya bebek bersuara di depan podium bercerita, memberikan data cuaca, udara dan kerusakan hutan. Burung dan bebek berkenalan, saling berbagi makanan, saling bertanya kabar, dan sesekali mengantarkan pulang ke kandang. Burung mendengar bebek bercerita dan menyadari, bahwa bebek kedua memiliki banyak mimpi untuk membuat lehernya berdasi, berenang di kolam renang biru bukan di sungai berbatu, dan ingin memiliki kandang yang lebih bagus. Burung mengetahui bebek tidak akan pernah berhenti belajar berenang, membaca kitab-kitab biji-bijian. “Pemiliku sepasang petani di desa akan bahagia dan kaya raya jika aku bertelur emas,” ujar bebek kedua suatu hari. Saat itu burung tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang ia dengar akan berdampak banyak pada keputusannya di masa depan. Keduanya kemudian dekat, sering berdiskusi mencari formula tepat bertelur emas. Bagi burung bertelur emas adalah impiannya yang lain setelah ia terbang tinggi.

Suatu hari induk sang Burung memintanya untuk pulang sebelum kelulusan pelajaran terbang. “Ibu buatkan sarang yang nyaman untukmu di kota, tinggal lah di sana agar mudah menjenguk kami,” ujar sang Induk dengan penuh tatapan tulus dan harap. Burung diajarkan untuk terbang tinggi kemudian sedih, “untuk apa aku belajar terbang setinggi ini bila akhirnya hanya terbang beberapa kilometer dari atas tanah dan pergi tak jauh dari sarang?”.

Hari kelulusan pun tiba, bebek kedua sudah berpindah ke hutan yang lebih besar dan rumit ekosistemnya, disebut ibukota ekosistem. Burung terbang ke atas gunung, di sana burung bisa mengetahui kabar para bebek tanpa harus bertegur sapa. Setelah berpindah rupanya bebek kedua berhasil bertemu dengan ladang termahsur di seluruh negeri yang terkenal dengan biji emas, batubara hingga kotoran kambing. Di ladang itu bebek bekerja dengan keras seperti mimpinya dulu. Kini ia berubah menjadi bebek berdasi, wangi, bertelur perak dan berlian. Suatu hari bebek kedua mendapatkan nasehat dari petani, “Carilah pasangan saat kau masih bertelur perak daripada saat bertelur emas.” Bebek kedua berpikir dengan baik, dia mulai mengingat satu nama, dua nama, tiga nama. Dari kejauhan burung mengamatinya dengan muram, ia sangat berharap bebek kedua ingat padanya lagi. Tapi burung kembali ingat pada sebuah surat yang ia tulis pada bebek kedua, “aku akan tinggal di hutan ini, kau pergilah ke ibukota ekosistem yang lebih besar itu.”

Hari berganti hari, waktu berlalu. Bebek kedua sempat memikirkan burung. Sayangnya burung tak pernah lagi terdengar kabarnya. Bebek merasa burung telah melupakannya. “Burung lebih cepat kawin di kawasan itu, mungkin dia sekarang sedang membuat formasi dengan kawanan,”. Bebek kedua memang pandai berasumsi dan mencoba berprofesi sebagai peramal. Burung pun sesekali mengamati bebek yang tengah berpikir di dalam kandangnya yang kini bentuknya bertumpuk-tumpuk. Setahun berlalu bebek menemukan seorangg betina yang tak lain adalah adik belajarnya di akademi perteluran. Mereka kemudian berkencan dan menikah. Burung membacanya di kertas undangan sehingga kabar itu bukan kabar burung. Ia pun kembali terbang ke gunung walaupun hujan begitu lebat. Ia terlihat muram kemudian akibat kesedihannya bulu bulunya rontok tanpa ia sadari.

Sesekali burung masih memperhatikan bebek pertama. Mereka masih ada di ekosistem yang sama. Bebek pertama belum bermigrasi kemanapun. Dia melanjutkan akademi perkandangan dan telur emas untuk membuat pemiliknya bangga. “Aku ingin petani pemilikku bangga memiliki bebek sepertiku, aku bebek sempurna yang harus membanggakan mereka”. Meskipun demikian burung dan bebek sesekali bertemu untuk makan biji di ladang, saling bercerita. Burung sebenarnya masih sangat sedih karena ia tak bisa terbang setinggi yang dia inginkan. “Kenapa kamu tidak terbang lebih tinggi?” bebek pertama selalu menanyakan itu. Burung sendiri tidak mengerti, dia masih bimbang dan berbagai pertanyaan di otaknya yang tiba-tiba menyusut. “Kau mau terbang bersamaku?” tanya burung suatu hari pada bebek. Bebek bilang ia sedang membuat kandang, sibuk dan tidak memiliki waktu. Ia juga setiap hari lebih sibuk bertelur emas. Barangkali bebek juga takut pada ketinggian. Bebek pertama kemudian menyuruh burung pergi dan terbang lebih tinggi. Burung merasa sedih dengan perkataan bebek. Setiap kesedihan itu muncul bulu-bulu sang Burung rontok. “Walaupun dari petani kaya rupanya bebek juga harus bertelur emas. Begitu ya?”gumamnya dalam hati sambil menatap lekat mendung yang kelabu.

Burung kini memutuskan membuat sarang yang nyaman dari ranting yang dibawa oleh induknya. “Aku suka ketinggian, aku bisa melihat semua mahluk dengan lebih baik dari sini,” ucapnya. “Kau menyukai hadiah dari ibu?” Tanya sang Induk. Burung kemudian mengangguk dan menambah banyak ornament seperti bunga kering, daun gugur dan akar wangi. “Apakah kamu masih ingin terbang tinggi?” Tanya sang Induk. “Iya, sesekali kemudian kembali ke sarang. Itu lebih dari cukup agar aku tak kelelahan. Bukankah hal paling indah saat kita memiliki tempat berpulang?”

Di atas gunung itu burung melihat bebek pertama dan kedua dari kejauhan. Matanya tak pernah lepas, hingga peri hutan menghampirinya. “Burung, sudah saatnya kamu bertelur, tidakkah kamu ingin?” tanya peri itu sembari duduk di sebelahnya. “Hai peri…. Hmmm tentu saja ingin, tapi aku belum menemukan kawanan yang tepat untuk aku ikuti,” jawab burung. “Kamu tidak perlu membebek, karena kamu adalah seekor burung. Sepanjang tahun kedua matamu hanya fokus pada bebek-bebek itu, tidakkah kamu menyadari ada banyak burung lain yang telah membuat sarang untuk memikatmu? Menyebarkan wangi? Membuat tarian dan formasi agar kamu bersama mereka?” peri itu berkata sambil melihat kearah ekosistem.

Burung tertegun.

“Kamu hanya fokus melihat yang ingin kamu lihat. Kamu mungkin tidak sadar dirimu adalah burung. Pernahkah kau sadari bulumu telah berganti warna secantik sekarang? Paruh serta sayapmu pun lebih kokoh. Banyak burung yang ingin memiliki apa yang kamu miliki, tapi lihatlah kamu hanya sedih dan memikirkan hari besok yang belum tentu seperti di pikiranmu. Kamu meratapi yang rontok, tapi tidak mensyukuri yang tumbuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *