#JUNE Not a cake, Just millions of Thanks

Tertanggal 15 Juni dimana biasanya aku akan memberikan sebuah buku untuk seorang sahabat. Katanya, hadiahnya pasti buku. Tinggal tebak – tebak berhadiah buku macam apa yang dikasih.Tahun ini?

Sekarang pun tertanggal 15 Juni. Tahun lalu aku bikinin klepon yang hancur parah hahahaha. Tahun ini? Kita sudah berada di tempat yang berbeda, di situasi dan kondisi yang berbeda pula. Hanya saluran medium suara yang mengantarkan ucapan selamat ulang tahun dan mengobrol dalam hitungan dua puluh menit dua puluh detik pagi tadi. Apakah yang istimewa tahun ini? Hanya satu hal, ketika kita berusia tak lagi muda belia. Kita terkekeh dalam saluran telepon mendapati usia 23 tahun dan kita masih begini – begini saja. Oh.. tunggu, progres hidup memang berjalan lambat tapi tetap ada yang tumbuh disini – entah apa, tapi semoga itu hal yang baik.

Kamu, seseorang yang Allah takdirkan menjadi yang setia mendengarkan ocehanku yang kadang nggak jelas. Seseorang yang bisa diajak mendiskusikan soal simpul – simpul mulai dari kehidupan modern di sosial media, kehidupan di sekitar kita sampai ngomongin soal tetangga sampai pagi. HAHAHA. Kamu yang mengajari aku menjadi manusia. Kamu yang selalu menegurku jika aku tidak jadi manusia. Kamu yang me-puk-puk kalau sedang galau berlebihan dan over thinking. Kamu yang kadang mengomeli aku ketika aku jadi lemah karena sesuatu. Kamu yang hobi aku ajak nyasar, aku ajak hujan – hujanan. Dan, memorable banget kita pernah gantiin bapak – bapak penjual keripik singkong demi seliter bensin di Depok. Kata seorang teman, aku adalah lelucon bagi hidupmu. Hahahha. Astaga seperti itukah aku?

we are

Kita sering marahan pada hal – hal yang acap kali membuat kita tidak sepandangan. Tapi harus saling belajar menempatkan posisi. Kapan menjadi dominan, kapan menjadi pendengar, kapan menjadi tukang puk-puk. Dan, saat kita semakin jarang berjumpa kita cuma tahu bahwa sahabat itu selalu ada. Ketika hidup mengajari kita bersabar, saat itulah kita saling menguatkan. Ketika hidup memberikan kebahagiaan, saat itulah kita saling bertukar kabar dan mengucapkan selamat. Dan, kita akan saling menertawakan kehidupan dan diri kita sendiri yang mungkin kian hari kian kompleks.

Dan, hari ini. Selamat telah semakin mendewasa. Menjadi dewasa adalah pilihan untuk menjadi lebih banyak menelan hidup yang mungkin kian rumit. Kamu yang mengajari aku banyak hal. Sangat banyak. Terimakasih atas semua yang sudah kita jalani. Sebagai partner in crime, sebagai guru, sebagai penasehat, sebagai jaksa, sebagai pengacara, sebagai lawan yang tidak untuk dikalahkan atau dimenangkan, sebagai apapun yang barangkali pernah kita perankan bersama.

Maaf kalau aku nyebelin, kalau aku annoying, kalau aku ngotot dan suka merepotkan. :*

Semoga aku masih memiliki serangkaian kalimat dari tahun ke tahun untuk mengucapkan selamat ulang tahun seperti hari ini. Sampai kita punya suami, saling bercerita tentang keluarga dan sampai kita reuni usia setengah abad nanti.

Happy Birthday! Selalu kuat dan selalu sabar! Selalu positif thinking kayak Nailah yang biasanya. Don’t Worry! Tenang, karena hanya dengan tenang kita bisa tenang.

NA-ilah

Ditulis dengan doa semoga segera menemukan apa yang dicari,

Dari Arfika, untuk Nailah F. Zulfan

Semoga tidak ada batas waktu yang membatasi persaudaraan yang barangkali tidak pernah dalam pertalian darah tapi bisa memberikan denyut seperti nadi

Pare, Kediri : 150615 – 19.43 P.M

Foto dipinjam dari sini

About

View all posts by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *