Stories

Sepotong Hati Yang Baru

Hujan menetes dari sela – sela atap rumah, suaranya bergemuruh pelan. Daun – daun bergerak saling berbisik diterpa angin, atu dua dahannya patah karena angin terlalu kencang berhembus. Patahan dan guguran daun saling jatuh bersamaan diatas remah – remah.

“Tiga tahun dan akhirnya?” ujarmu mematuk – matuk diri terkurung dalam kamar ukuran 3×3.

Bola matamu masih sibuk mengamati gerak krusor dalam layar, sesekali berkedip lebih cepat untuk merepson.

                Kamu tidaak sedang memikirkan untuk melakukan apa, tapi sedang berpikir keras pada apa yang kamu sering bertanyakan. Ini masalah hati.sph

                “Aku udah putus Bang,” ceritanya padamu beberapa pekan yang lalu. Bola matamu seakan tidak mampu menahan lonjakan kekagetan itu. Dapat dipastikan kamu sendiri tidak kalah kaget dengan dia yang kamu ajak bicara sekarang. Sahabat yang pernah kamu
anggap telah mengkhianati dengan atau tanpa alasan.

“Akhirnya mereka berpisah,” katamu lagi.

Hujan masih menetes sewaktu kamu dan dia duduk dipinggir pantai itu. Indah bukan hujan dengan gelombang ombak beriak – riak ditepinya.

“Ada apa tiba – tiba ngajak ke Pantai, hujan – hujan lagi,” tanyanya sambil menengadah ke langit jikalau tiba – tiba langit runtuh dengan hujan yang lebih banyak dan kalian hanya ada ditepian sebuah gazebo ditepi pantai.

“Pengen aja ke laut,” ungkapmu yang lebih sibuk mengamati ombak yang menepi dibandingkan dia yang sekarang ada disampingmu.

Angin lebih cepat berhembus dipantai, membuat kacamatamu lebih cepat berembun.

“Zey, kamu tahu soal Tania?” tanyamu padanya setelah berkali – kali memikirkan hal tersebut sedari kemarin.

“Iya, cinta pertama kamu itu kan? Yang nggak bisa move on – move on,” cibirnya tanpa melihat wajahnmu.

“Hahaha, sekarang dia udah putus sama sahabatku itu,” ceritamu kemudian kali ini sembari melempar satu dua karang yang kamu ambil saat berjalan menuju tempat kalian saat ini.

“Oh ya? Selamat, akhirnya kamu bisa PDKT sama dia lagi,” katanya dengan nada yang terdengar ketus.

Kamu terdiam menyesapi pinggiran kata – katanya yang berujung getir dan hampir menyentuh nada dasar.

“Sebenarnya bukan masalah mereka berpisah atau bersama lagi, bukan masalah seberapa lama pula sampai akhirnya aku sadar bahwa cinta itu memang harus memiliki,” ungkapmu lagi dengan helaan nafas yang bisa didengar olehnya disebelahmu.

Dia diam, benar – benar diam. Itu lebih baik karena sebenarnya kamu takut ada isakan diantaranya. Kamu takut oleh tangisan seorang gadis.

“Sampai akhirnya aku sadar bahwa cinta memang harus dikatakan bukan hanya disembunyikan, cinta itu bukan memiliki tapi dimiliki, dimiliki oleh mereka yang mau memiliki.” Perkataanmu yang terlalu filosofis itu membuatnya muak. Gadis itu akhir – akhir ini terlalu dekat denganmu.

“Dan akhirnya,….” Tanganmu mengeluarkan sesuatu dari balik ransel warna hitam. Buku. Kamu tahu dia tidak terlalu menyukai buku. Mungkin dia lebih menyukai rumusan rumit dari coding  dan php dibandingkan membaca kalimat – kalimat yang sama sekali tidak ilmiah dan terlalu bertele – tele.

“Sepotong Hati Yang Baru,” ejanya kemudian.

“Kamu memang bukan yang pertama, tapi yang aku tahu sekarang. Kamu adalah Sepotong Hatiku Yang Baru Zeyya,” ungkapmu padanya sembari menyerahkan buku itu dan menggenggam tangannya yang dingin.

Banyak orang yang terus menunggu dan tak pernah memutuskan. Banyak yang berteori dan penuh kalkulasi bahwa mereka yang dinanti adalah yang terbaik dan sulit terganti. Bagaimana bila semua perasaan terus berputar – putar seperti itu. Mungkin di dunia ini pada akhirnya memang harus menyelesaikan siklusnya dan membuat siklus yang baru.

Akhirnya dibawah naungan langit yang dikira oleh dia sudah runtuh menimpa kalian karena tiba – tiba kamu mengatakan semua itu, cerita tentang penantian dan pertanyaa telah berakhir digantikan dengan sepotong hati yang baru.

“Perasaan itu mirip makanan, kita tak tau rasanya bila tak di makan. Dan, pastinya bakal basi di makan zaman. Maka, sebelum makanan itu basi, ungkapkan!”

 

31 Desember 2012

10.47

Arfika

Tell me Your Story 🙂

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *