• Stories

    Terima Kasih Tak Jadi Kasih

    Desember selalu identik dengan hujan, seperti sekarang rintik – rintik gerimis mematuk permukaan payung yang sengaja aku bawa. Kereta yang membawamu terlihat sudah sampai lima belas menit lebih cepat daripada kedatanganku. Langkahku melambat untuk memastikan aku baik – baik saja. “Hey, maaf lama,” sapaku mengagetkanmu yang sedang menekuni buku. Seperti biasa kamu selalu mencintai buku – buku itu dan membawanya kemanapun kamu pergi. “Lama,” ujarmu mendongak ke arahku dan membenarkan letak kacamata dengan air muka ketus. Aku tersenyum menggoda. “Ya maaf, jam pulang kantor macet,” kilahku padahal aku memang sengaja terlambat agar ia yang menunggu atau mungkin ada sedikit cara mengulur waktu. Ia menarik kopernya dan kami berjalan meninggalkan stasiun.

  • Stories

    #10

    Ini seperti menumpang pada kereta dan sampai pada stasiun berikutnya. Stasiun kesepuluh, orang – orang biasa memanggilnya Oktober. Aku dengar diakhir stasiun sebelumnya hujan datang mengguyur seperti mengucapkan selamat tinggal pada musim kemarau yang singgah sebentar tahun ini. Ah iya, entah mengapa kemarau singgah sebentar tahun ini, bukannya aku menyukai kemarau tapi kadang hujan terlalu banyak meneteskan kenangan dan mengembunkan sepi.

  • Stories

    True Fireworks

    Senja sudah berlalu lama beberapa jam, gerimis berjingkat – jingkat sejak isya. Anggrek bulan berayun – ayun oleh mesin pendingin ruangan. Warnanya putih dan ungu semburat diantara ratusan manusia yang hilir mudik hendak berpindah. Jauh untuk kembali pulang atau jauh untuk pergi. Akhirnya pesawat bermuatan puluhan orang dari negara empat musim itu sampai juga tepat sebelum pukul 10 malam. Orang – orang berwajah tirus dan berhidung mancung dengan kulit pucat mulai menapaki lantai bandara sembari berbincang dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa negara yang mereka datangi. Diantara sela – sela gadis bermata coklat berwajah bulat berjalan lebih cepat untuk mengejar pesawat transit berikutnya. “Maaf, pesawat anda ditunda sampai besok,” ujar…

  • Stories

    (Bukan) Alasan

    Setiap hari aku berjumpa dengan dia di halaman rumah. Aktivitasnya hanyalah menyapa beberapa tetangga kadang – kadang bercakap walaupun hanya sebentar. Biasanya dia juga sering berbicara tanpa lawan bicara, dia bicara sembari mematuk – matukan jarinya. Tapi, sebetulnya aku sering mendengarkan tanpa sengaja.