• Stories

    Edelweiss dalam Dekapan Pangrango

    Rumah itu tidaklah besar, ukuran perumahan sederhana di kawasan suburban ibukota. Pemilik rumahnya adalah sepasang pengantin baru yang sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pernikahan itu sendiri. Belum banyak bunga – bungaan yang ditanam oleh keduanya, catnya pun masih standart berwarna putih. Mereka belum sempat mendebatkan tentang warna cat rumah atau bentuk sofa karena pagi ini mereka baru selesai melakukan pindahan. “Mari membuat rumah yang nyaman dan bahagia, Sayang,” bisik Si perempuan setelah selesai membereskan beberapa buku di rak salah satu ruang yang kini difungsikan sebagai ruang baca dari kesepakatan bersama. “Hem,” balas Sang suami berdehem mengiyakan sambil tersenyum. “Sayang, aku mau bulan madu,” ujar perempuan tiba – tiba yang…

  • Stories

    Now

    Lorong yang didominasi warna putih ini jadi tercemar oleh kehadiran kita berdua. Aku yang hari ini menggunakan setelan peach dan tosca serta kamu dengan suiter warna navy. Kita berjalan bersisihan untuk mencapai ruangan di ujung lorong. Bau khas rumah sakit yang terlalu asing untukku dan sedang menjadi biasa untukmu. Sudah hampir tiga bulan terakhir kamu sakit dan baru sekarang aku bisa menemanimu. Bukan karena aku tak mau, tapi jarak sempat jadi pilihan dimana kita akhirnya tidak saling bertemu. “Silahkan menunggu, dokter Yosal belum datang,” ujar seseorang di ujung lorong sebelumnya yang pastinya setiap hari memakai setelah warna putih seperti dinding rumah sakit ini. “Kenapa nggak datang tepat waktu aja, daripada…

  • Stories

    Kita dan Kata

    Manusia adalah mendadak. Mendadak cinta, mendadak sakit, mendadak pergi, mendadak berhenti. Manusia dengan insting terperinci dan terplanning pasti pernah mendadak kan? Tapi bukankah mendadak itu menyenangkan karena berupa kejutan? Ah, itu pasti kataku bukan katamu. Katamu sebagai manusia yang paling terencana dan rasional bahwa semua harus terencana dan terjanjikan. Sayangnya bukan untuk suatu hubungan kan? Mungkin kamu sudah merencanakan hanya saja aku yang cukup tidak tahu dan enggan bertanya. Padahal biasanya aku tidak akan segan bertanya apa saja di ruang itu. Ruang itu tidaklah besar, memang sengaja agar hanya mampu untuk duduk kita berdua. Disana kamu biasanya bercerita banyak hal, buku, politik, sejarah dan mendebatkan segala sesuatu yang kamu temui…

  • Stories

    ‘Bembang’ dan Naira

    Dante menghela nafas pelan memandang awan biru dan lautan yang sama birunya. Pohon johar rimbun memagari rumah tepat di sebelah sekolah Belanda dan berjarak seratus meter dari kantor gezaghebber, kepala pemerintah setempat. Belakangan ia tahu bahwa rumah ini disewa dengan harga f 12,5,- per bulan untuk ia dan beberapa tahanan buangan politik lainnya. Dua bulan yang lalu telegram dari Ambon, Kapten Wiarda membuatnya bisa berdiri di pulau penghasil Pala dan Cengkeh itu. Banda Neira. Tiga bulan yang lalu tokoh buangan politik atau sebagai orang “bembang” di tanah Banda adalah Hatta dan Sjahrir. Benar memang tentang banyak kabar bahwa Banda memang lebih manusiawi dan beradab dibandingkan Digul. Sudah hampir seminggu Dante…

  • Stories

    (PER)temu(AN)

    Entah kenapa Tuhan memutuskan mengadakan pertemuan itu antara aku dan kau. Aku curiga Tuhan berkonspirasi berlebihan kemudian Ia tidak peduli dan meninggalkan begitu saja. Benarkah? – aku terlalu banyak bertanya. Seperti dulu aku menanyakan tentang pertemuan – pertemuan idaman dalam khayalan. Lantas pertemuan itu menjadi selarik jingga dalam gundahan gumpalan. Kata UtusanNya, segumpal dalam diri itu bernama hati. Hati yang kemudian banyak divisualkan atau diceritakan. Awalnya aku tak menyadari adanya pertemuan dalam pertemuan, karena awalnya pun aku mengira hanya sekedar kenalan tidak ada expektasi berlebihan. Sayangnya, layaknya pertemuan dengan banyak pembicaraan aku pun sesekali terlalu nyaman. Anggaplah aku yang lancang kemudian saling melempar pandangan. Pertemuan, selalu ada pertemuan walaupun kadang…