Rumah itu tidaklah besar, ukuran perumahan sederhana di kawasan suburban ibukota. Pemilik rumahnya adalah sepasang pengantin baru yang sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pernikahan itu sendiri. Belum banyak bunga – bungaan yang ditanam oleh keduanya, catnya pun masih standart berwarna putih. Mereka belum sempat mendebatkan tentang warna cat rumah…
-
-
Now
Lorong yang didominasi warna putih ini jadi tercemar oleh kehadiran kita berdua. Aku yang hari ini menggunakan setelan peach dan tosca serta kamu dengan suiter warna navy. Kita berjalan bersisihan untuk mencapai ruangan di ujung lorong. Bau khas rumah sakit yang terlalu asing untukku dan sedang menjadi biasa untukmu. Sudah…
-
Kita dan Kata
Manusia adalah mendadak. Mendadak cinta, mendadak sakit, mendadak pergi, mendadak berhenti. Manusia dengan insting terperinci dan terplanning pasti pernah mendadak kan? Tapi bukankah mendadak itu menyenangkan karena berupa kejutan? Ah, itu pasti kataku bukan katamu. Katamu sebagai manusia yang paling terencana dan rasional bahwa semua harus terencana dan terjanjikan. Sayangnya…
-
‘Bembang’ dan Naira
Dante menghela nafas pelan memandang awan biru dan lautan yang sama birunya. Pohon johar rimbun memagari rumah tepat di sebelah sekolah Belanda dan berjarak seratus meter dari kantor gezaghebber, kepala pemerintah setempat. Belakangan ia tahu bahwa rumah ini disewa dengan harga f 12,5,- per bulan untuk ia dan beberapa tahanan…
-
(PER)temu(AN)
Entah kenapa Tuhan memutuskan mengadakan pertemuan itu antara aku dan kau. Aku curiga Tuhan berkonspirasi berlebihan kemudian Ia tidak peduli dan meninggalkan begitu saja. Benarkah? – aku terlalu banyak bertanya. Seperti dulu aku menanyakan tentang pertemuan – pertemuan idaman dalam khayalan. Lantas pertemuan itu menjadi selarik jingga dalam gundahan gumpalan.…