• Stories

    Nomaden Blue

    “Prosa kamu terlalu dalam,” sapaku mengagetkannya beberapa saat setelah acara selesai dan kami bertemu tepat di pintu keluar. “Hay, aku Tara,” kenalku padanya yang masih tertegun beberapa detik karena sikapku yang sok akrab. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Hay, Aku Azalea. Aku tau nama kamu Tara, aku suka mendengarkan prosamu yang penuh semiotika.” Sejurus itu aku tersenyum. Itulah kedua kalinya aku berkenalan dengan Azalea. Perempuan pengagum warna biru, entahlah mengapa dia begitu menyukai warna biru. Jujur saja aku tidak memiliki warna favorit, memfavoritkan sesuatu hal bukan tipeku. Aku dan Azalea sebetulnya telah saling mengenal – kami penulis dari satu penerbit. Tapi, kami beda genre sehingga kami hanya sekedar tahu –…