• Stories

    ‘Bembang’ Neira

    Dante menghela nafas pelan memandang awan biru dan lautan yang sama birunya. Pohon johar rimbun memagari rumah tepat di sebelah sekolah Belanda dan berjarak seratus meter dari kantor gezaghebber, kepala pemerintah setempat. Telegram dari Ambon, Kapten Wiarda membuatnya bisa berdiri di pulau penghasil Pala dan Cengkeh itu. Banda Neira. Tiga bulan yang lalu tokoh buangan politik atau sebagai orang “bembang” di tanah Banda adalah Hatta dan Sjahrir. Baru seminggu Dante tiba di tanah Banda, beberapa kali ia telah bertemu dengan senior politiknya sekedar bertandang serta sesekali membantu koperasi yang diprakarasai Hatta, Sjahrir dan Iwa. Hamparan kebun pala sejauh jangkauan pandang, Pulau Gunung Api di seberang Pulau Banda dengan suara deburan…

  • Stories

    Hujan Pertama January, -38 Celcius

    Di meja itu ada dua orang duduk dengan jarak, seakan memberi spasi. Mungkin juga spasi pada hati masing – masing, juga spasi pada kenyataan, fantasi dan angan – angan. Satu diantaranya nampak salah memesan minuman dicuaca yang tiba – tiba hujan seperti sekarang coklat tiramisu dingin bukan pilihan yang tepat. Lima menit janggal tanpa perkataan, padahal sebelumnya semua masih renyah dan manis seperti churros Spanish yang tinggal menyisakan remah diatas piring saji. “Aku tidak akan menikah sebelum lulus doktor,” kata laki – laki itu tegas. “Aku tidak pernah meminta kamu menikahiku,” sela wanita di hadapannya yang enggan menyentuh lagi gelas dihadapannya. Ada jeda tiga menit sampai akhirnya wanita itu tersenyum.…

  • Stories

    Terima Kasih Tak Jadi Kasih

    Desember selalu identik dengan hujan, seperti sekarang rintik – rintik gerimis mematuk permukaan payung yang sengaja aku bawa. Kereta yang membawamu terlihat sudah sampai lima belas menit lebih cepat daripada kedatanganku. Langkahku melambat untuk memastikan aku baik – baik saja. “Hey, maaf lama,” sapaku mengagetkanmu yang sedang menekuni buku. Seperti biasa kamu selalu mencintai buku – buku itu dan membawanya kemanapun kamu pergi. “Lama,” ujarmu mendongak ke arahku dan membenarkan letak kacamata dengan air muka ketus. Aku tersenyum menggoda. “Ya maaf, jam pulang kantor macet,” kilahku padahal aku memang sengaja terlambat agar ia yang menunggu atau mungkin ada sedikit cara mengulur waktu. Ia menarik kopernya dan kami berjalan meninggalkan stasiun.

  • Stories

    #10

    Ini seperti menumpang pada kereta dan sampai pada stasiun berikutnya. Stasiun kesepuluh, orang – orang biasa memanggilnya Oktober. Aku dengar diakhir stasiun sebelumnya hujan datang mengguyur seperti mengucapkan selamat tinggal pada musim kemarau yang singgah sebentar tahun ini. Ah iya, entah mengapa kemarau singgah sebentar tahun ini, bukannya aku menyukai kemarau tapi kadang hujan terlalu banyak meneteskan kenangan dan mengembunkan sepi.