• Stories

    Nomaden Blue

    “Prosa kamu terlalu dalam,” sapaku mengagetkannya beberapa saat setelah acara selesai dan kami bertemu tepat di pintu keluar. “Hay, aku Tara,” kenalku padanya yang masih tertegun beberapa detik karena sikapku yang sok akrab. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Hay, Aku Azalea. Aku tau nama kamu Tara, aku suka mendengarkan prosamu yang penuh semiotika.” Sejurus itu aku tersenyum. Itulah kedua kalinya aku berkenalan dengan Azalea. Perempuan pengagum warna biru, entahlah mengapa dia begitu menyukai warna biru. Jujur saja aku tidak memiliki warna favorit, memfavoritkan sesuatu hal bukan tipeku. Aku dan Azalea sebetulnya telah saling mengenal – kami penulis dari satu penerbit. Tapi, kami beda genre sehingga kami hanya sekedar tahu –…

  • Stories

    NSP

    “Berapa banyak waktu kita?” tanyamu dengan muka penuh curiga. “Sebanyak yang kamu bisa,” jawabku ringan. Hujan masih menyisakan gerimis yang tipis. Bangku kayu di sekitar peron ini tidak begitu penuh, hanya beberapa orang yang nampak sama duduknya dengan kami. Menunggu. Menunggu kereta yang datang. Kamu mendengus pelan. Di usiamu yang ke-22 gurat dewasa membuat parasmu kian sempurna. Ah iya, dari sembilan tahun yang lalu bukankah kamu memang selalu cantik? Sembilan – bolehkah aku eja lagi s-e-m-b-i-l-a-n. Astaga, selama itukah Tuhan mengijinkan kita bersahabat? “Kamu curang, kamu tidak datang,” ucapmu dengan nada marah, sedih dan kecewa, namun memaklumi. “Tidak ada yang bisa bernegosiasi dengan waktu, kamu tidak dan aku juga,” kataku…