Uncategorized

Tempo Perberhentian #Lakuna4

Bandara, Stasiun atau terminal sekalipun sering menjadi tempat berpisahnya mata dengan mata, hati dengan hati. Tempat – tempat perberhentian untuk menuju ke tempat lainnya, barangkali memang kodrat manusia yang selalu membutuhkan alat untuk berpindah.

Bandara itu masih ramai. Jika ini adalah teater maka bisa jadi penuh sesak oleh berbagai adegan. Disebelah sana ada sepasang kekasih yang saling melepas, dibagian lain ada seorang ibu mengusap kepala putranya dan entah dibagian yang lain. Kemi baru saja memilih tempatnya untuk menunggu. Bukan di kafe atau di toko buku, dia sudah siap dengan amunisinya selama menunggu. Kemi memilih bagian pojok dari ruang tunggu. Ada kursi kosong dekat jendela yang dengan bebas membuatnya melihat landasan pesawat dan langit malam. Tidak ada adegan tangis menangis dan pelepasan dalam kepergiannya ini. Sebab temponya hanya lima belas hari untuk melakukan serangkaian acara.

Dande
Sorry, nggak bisa nganter

Tulis chat yang berkedip setelah laptop dipangkuannya menyala.

Alkemi
It doesn’t matter, Dande. Udah biasa sendirian 😛

Balas Kemi kemudian.

Dande
Masih jam 10 kan?

Alkemi
Iya, cuma nggak mau aja terlambat dan ditinggalkan

Dande
Dasar penakut. Sama pesawat aja takut ditinggal.

Alkemi
Bukan begitu. Lagipula aku lebih suka seperti ini. Menunggu dan mempersiapkan diri.

Dande
Menunggu di perberhentian

Alkemi
Aha, iya mungkin begitu. Kadang kita harus berhenti sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Walau kadang berhenti membuat kita takut

Dande
Rasa takut itu kodrat manusia. Kalau tidak punya rasa takut dunia ini pasti lebih menakutkan.

Alkemi
Kita juga butuh berhenti untuk mengamati hal yang sudah terlewati atau memikirkan apa yang akan kita pilih untuk dilalui.

Kami kemudian meneguk air mineral dari botol yang sudah ia siapkan tadi.

Dande
Ya, tapi ketakutan bukanlah alasan berhenti terlalu lama dan ragu melangkah lagi

Alkemi
Ya, harusnya begitu. Aku harap juga begitu.

Kotak chat kemudian bertanda offline.

Kebiasaan Kemi ketika menunggu ialah menulis sesuatu. Entah apapun yang barangkali dia masukkan dalam suatu folder semacam buku harian.

‘Mungkin hakikat hidup memang demikian. Ada tangga yang harus kita lewati. Semakin tua akan semakin banyak  tangga yang harus kita lewati. Kadang kita diminta berhenti. Ya, berhenti. Ada yang menarik nafas sebentar untuk lanjut berenang atau berlari. Ada juga yang tidak memahami dan sibuk meruntuki. Seperti perjalanan panjang yang kadang kita butuh menengok sesekali ke belakang, melihat semua persediaan yang dimiliki dan apa yang harus dimiliki bahkan apa yang harus ditinggal. Perjalanan hidup tentulah harus efesien dan efektif.

‘Here’s something my mom said to me and i think it’s very true in terms of happiness : You have to always have something to look forward to. It can be a minor thing, and it can be a major thing. But you always have to have something you’re looking forward to next.’

Setelah memastikan note terakhirnya tersimpan Kemi kemudian membuka salah satu bagian tasnya. Ada sebuah buku yang sudah dia siapkan untuk menemani perjalanan kali ini.
Buku memang teman terbaik sepanjang perjalanan, tapi membaca harus dilakukan sepanjang jalan agar bisa terus berjalan.

Tentang Lakuna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *