• Stories

    Kita dan Kata

    Manusia adalah mendadak. Mendadak cinta, mendadak sakit, mendadak pergi, mendadak berhenti. Manusia dengan insting terperinci dan terplanning pasti pernah mendadak kan? Tapi bukankah mendadak itu menyenangkan karena berupa kejutan? Ah, itu pasti kataku bukan katamu. Katamu sebagai manusia yang paling terencana dan rasional bahwa semua harus terencana dan terjanjikan. Sayangnya bukan untuk suatu hubungan kan? Mungkin kamu sudah merencanakan hanya saja aku yang cukup tidak tahu dan enggan bertanya. Padahal biasanya aku tidak akan segan bertanya apa saja di ruang itu. Ruang itu tidaklah besar, memang sengaja agar hanya mampu untuk duduk kita berdua. Disana kamu biasanya bercerita banyak hal, buku, politik, sejarah dan mendebatkan segala sesuatu yang kamu temui…

  • Stories

    ‘Bembang’ dan Naira

    Dante menghela nafas pelan memandang awan biru dan lautan yang sama birunya. Pohon johar rimbun memagari rumah tepat di sebelah sekolah Belanda dan berjarak seratus meter dari kantor gezaghebber, kepala pemerintah setempat. Belakangan ia tahu bahwa rumah ini disewa dengan harga f 12,5,- per bulan untuk ia dan beberapa tahanan buangan politik lainnya. Dua bulan yang lalu telegram dari Ambon, Kapten Wiarda membuatnya bisa berdiri di pulau penghasil Pala dan Cengkeh itu. Banda Neira. Tiga bulan yang lalu tokoh buangan politik atau sebagai orang “bembang” di tanah Banda adalah Hatta dan Sjahrir. Benar memang tentang banyak kabar bahwa Banda memang lebih manusiawi dan beradab dibandingkan Digul. Sudah hampir seminggu Dante…

  • Stories

    (PER)temu(AN)

    Entah kenapa Tuhan memutuskan mengadakan pertemuan itu antara aku dan kau. Aku curiga Tuhan berkonspirasi berlebihan kemudian Ia tidak peduli dan meninggalkan begitu saja. Benarkah? – aku terlalu banyak bertanya. Seperti dulu aku menanyakan tentang pertemuan – pertemuan idaman dalam khayalan. Lantas pertemuan itu menjadi selarik jingga dalam gundahan gumpalan. Kata UtusanNya, segumpal dalam diri itu bernama hati. Hati yang kemudian banyak divisualkan atau diceritakan. Awalnya aku tak menyadari adanya pertemuan dalam pertemuan, karena awalnya pun aku mengira hanya sekedar kenalan tidak ada expektasi berlebihan. Sayangnya, layaknya pertemuan dengan banyak pembicaraan aku pun sesekali terlalu nyaman. Anggaplah aku yang lancang kemudian saling melempar pandangan. Pertemuan, selalu ada pertemuan walaupun kadang…

  • Stories

    Hujan Pertama January, -38 Celcius

    Di meja itu ada dua orang duduk dengan jarak, seakan memberi spasi. Mungkin juga spasi pada hati masing – masing, juga spasi pada kenyataan, fantasi dan angan – angan. Satu diantaranya nampak salah memesan minuman dicuaca yang tiba – tiba hujan seperti sekarang coklat tiramisu dingin bukan pilihan yang tepat. Lima menit janggal tanpa perkataan, padahal sebelumnya semua masih renyah dan manis seperti churros Spanish yang tinggal menyisakan remah diatas piring saji. “Aku tidak akan menikah sebelum lulus doktor,” kata laki – laki itu tegas. “Aku tidak pernah meminta kamu menikahiku,” sela wanita di hadapannya yang enggan menyentuh lagi gelas dihadapannya. Ada jeda tiga menit sampai akhirnya wanita itu tersenyum.…

  • Stories

    Terima Kasih Tak Jadi Kasih

    Desember selalu identik dengan hujan, seperti sekarang rintik – rintik gerimis mematuk permukaan payung yang sengaja aku bawa. Kereta yang membawamu terlihat sudah sampai lima belas menit lebih cepat daripada kedatanganku. Langkahku melambat untuk memastikan aku baik – baik saja. “Hey, maaf lama,” sapaku mengagetkanmu yang sedang menekuni buku. Seperti biasa kamu selalu mencintai buku – buku itu dan membawanya kemanapun kamu pergi. “Lama,” ujarmu mendongak ke arahku dan membenarkan letak kacamata dengan air muka ketus. Aku tersenyum menggoda. “Ya maaf, jam pulang kantor macet,” kilahku padahal aku memang sengaja terlambat agar ia yang menunggu atau mungkin ada sedikit cara mengulur waktu. Ia menarik kopernya dan kami berjalan meninggalkan stasiun.

  • Stories

    Someone Who In Love

    The worst feeling that you could ever possess to someone is the feeling of possessing him/her, as if that person is completely yours. Because you could never, ever “own” a person. You could only be happy when the person you choose to be with also chooses to be with you.

  • Stories

    #10

    Ini seperti menumpang pada kereta dan sampai pada stasiun berikutnya. Stasiun kesepuluh, orang – orang biasa memanggilnya Oktober. Aku dengar diakhir stasiun sebelumnya hujan datang mengguyur seperti mengucapkan selamat tinggal pada musim kemarau yang singgah sebentar tahun ini. Ah iya, entah mengapa kemarau singgah sebentar tahun ini, bukannya aku menyukai kemarau tapi kadang hujan terlalu banyak meneteskan kenangan dan mengembunkan sepi.

  • Stories

    True Fireworks

    Senja sudah berlalu lama beberapa jam, gerimis berjingkat – jingkat sejak isya. Anggrek bulan berayun – ayun oleh mesin pendingin ruangan. Warnanya putih dan ungu semburat diantara ratusan manusia yang hilir mudik hendak berpindah. Jauh untuk kembali pulang atau jauh untuk pergi. Akhirnya pesawat bermuatan puluhan orang dari negara empat musim itu sampai juga tepat sebelum pukul 10 malam. Orang – orang berwajah tirus dan berhidung mancung dengan kulit pucat mulai menapaki lantai bandara sembari berbincang dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa negara yang mereka datangi. Diantara sela – sela gadis bermata coklat berwajah bulat berjalan lebih cepat untuk mengejar pesawat transit berikutnya. “Maaf, pesawat anda ditunda sampai besok,” ujar…

  • Stories

    (tak) Ingin Menulis dan Menyimpan Hati

    “Hai Fatis, gimana persiapan percobaan pertama menjadi manusia hutan? ” sapannya kikuk kala kami berpapasan di camp. Aku hanya membalas dengan senyuman. Segera aku beranjak dari kadang Momo. Aku tak tahan bertemu lebih lama dengannya. Dia, namanya Gugum Gumilar. Kami sebaya, kami satu profesi, kami satu tempat kerja dan dulu satu tempat kuliah. Aku telah mengenalnya hampir enam tahun terakhir. Iya, dari bangku kuliah sampai bekerja sekarang. Terlalu lama.   Semuanya menjadi terlalu lama bagiku, mungkin tidak baginya. Terlalu lama untuk segumpal harapan ini. Cuma segumpal, aku tak pernah bermaksud memeliharanya tapi ini bertahan sebegitu lamanya. Tanpa aku sadari. Berkali aku mengelak, berkali aku terluka. Dan, berkali pula sebenarnya aku…

  • Stories

    KEMBALI

    Pagi memberikan sentuhan lebih dingin bulan ini. Kemarau datang meranggasi pohon jati, memberi warna pada bunga flamboyant. Semburat orangenya menyala – nyala serasi. Burung pelatuk mematuk pelan di pohon – pohon yang mulai meninggi, satu dua burung pipit turun mengambil jerami. Aku pulang. Kebisingan kota kadang membuat carut marut tanpa koreksi, terlalu banyak suara disana. Hingga kadang memekakan telinga dan tidak mempu mendengar mana suara yang benar dan mana yang salah. Inilah yang selalu aku nanti, kembali menyatu pada keheningan dan menasbihkan kesunyian. Sembari meresapi yang telah terjadi, berkontemplasi, seperti detoksifikasi pada berbagai sisi. Membuang jelaga hati. Kembali. Kembali kesini sama arti dengan meletupkan memori. Seperti sepiring makanan siap saji…